Recent Articles

Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
0
Oleh Dr Muhammad Hariyadi MA*

Rasulullah SAW menginformasikan kepada kita mengenai tiga ciri orang munafik, yaitu: mayoritas pembicaraannya mengandung kebohongan, kebanyakan janjinya tidak ditepati, dan jika dipercaya berkhianat.

Dewasa ini tiga sifat tersebut menjadi penyakit sosial yang akut di masyarakat, sehingga kebohongan, tidak menepati janji dan berkhianat merupakan pemandangan umum yang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan di kalangan anak didik, tidak terasa lagi adanya beban psikologis pada saat anak-anak berbohong dan meninggalkan komitmen yang seharusnya dipegang teguh dalam melakukan berbagai tugas pendidikan.

Allah SWT mengeksplorasi di dalam Alquran akan bahaya sifat kemunafikan dan beban psikologisnya yang negatif. Melalui sebelas ayat yang sebelas ayat yang beruntun (QS. Al-Baqarah 8-20), Allah SWT menjelaskan kondisi psikologis orang-orang munafik tersebut, di antaranya:

Pertama, mereka adalah pribadi yang sifat kepribadian internalnya bertentangan sebab apa yang mereka ungkapkan berbeda dengan apa yang mereka yakini, oleh sebab adanya kepentingan pribadi dan duniawi yang ingin mereka capai. Allah SWT berfirman: "Dan di antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari." (QS. Al-Baqarah: 8).

Kedua, mereka adalah pribadi yang cara berpikirnya kacau dengan orientasi senantiasa berupaya menipu orang lain, termasuk Tuhan serta tidak sadar pada hakekatnya mereka menipu diri sendiri. Mengelabuhi pihak lain mungkin dapat berhasil, namun cara mereka mengelabuhi Tuhan hanya menjadi tertawaan logika, sebab semua bentuk pengelabuhan tersebut akan terungkap nyata di hari pembalasan. Allah SWT berfirman: "Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari." (QS. Al-Baqarah: 9).

Ketiga,  mereka adalah pemilik hati yang sakit karena senantiasa menutupi "kebenaran kata hatinya" yang seharusnya menjadi petunjuk kebenaran bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, sebenarnya hati mereka sakit karena lelah menanggung kemunafikan yang harus diperankannya terus menerus. Allah SWT menegaskan: "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu." (QS. Al- Baqarah: 10).

Keempat, mereka adalah orang-orang yang lihai dalam mengopinikan publik akan kemaslahatan di bumi, padahal semuanya hanyalah tameng-tameng yang menutupi kerakusan dan kerusakan yang mereka lakukan. Allah SWT berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "janganlah berbuat kerusakan di bumi!" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." (QS. Al-Baqarah: 11).

Kelima, mereka menganggap remeh orang-orang yang berada di luar mereka dan menjulukinya sebagai orang-orang bodoh, padahal hakekat yang sebenarnya justru sebaliknya. (QS. Al-Baqarah: 13).

Keenam, mereka adalah orang-orang yang buta "mata dan hatinya", tuli "pendengarannya" dan bisu "mulutnya" sebab panca inderanya hanya mampu melihat segala sesuatu dengan pandangan yang serba material, hedonis dan kepentingan duniawi semata.

Mereka bagaikan orang berjalan di kegelapan dengan suasana hujan lebat disertai gemuruh petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Mereka berhati-hati dalam menjalankan aksi kemunafikannya dan rapuh psikologisnya, serta menunggu kelengahan pihak lain sehingga mereka adalah pribadi yang inkonsisten dalam ucapan, sikap dan perbuatan. Wallahu A'lam.

*Penulis Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta
0
Rocker Berseru
Proses penyebaran Al-Qur’an dijaman Rasulullah bisa diibaratkan dengan memperbanyak copy-an album rekaman oleh produser kedalam kaset atau CD. Selesai lagu diciptakan maka bunyi yang dihasilkan disimpan dalam kaset/CD, digandakan lalu disebarkan ke masyarakat luas. Setiap orang memiliki kaset/CD tersebut, kalaupun ada yang tidak punya, dia bisa meminjam atau ‘numpang mendengar’ kaset/CD milik tetangga. Apabila rusak, maka si pemilik bisa merujuk kepada kaset/CD yang lain yang tidak rusak, jaman dulu tidak ada kaset/CD, yang ada otak manusia sebagai sarana penyimpannya.

Selama proses perekaman kedalam kaset/CD, ada juga yang sekalian menulis lirik lagunya pada lembaran kertas, ada yang menulis 1 lirik lagu, ada yang 2 buah, ketika selesai seluruh album, ada juga yang menulis keseluruhan lirik lagu tersebut. Sekalipun keseluruhan album belum selesai namun lagu-lagu yang ada dalam album tersebut sudah diperdengarkan pada khalayak umum, menjadi ‘top-hit’ dan sering diperdengarkan di stasiun radio, tapi karena dulu belum ada statsiun radio, maka ‘lagu’ tersebut diperdengarkan di mesjid, 5 kali sehari. Orang-orang yang sudah hapal juga menyanyikannya dirumah-rumah, dinyanyikan bersama-sama, kalau ada yang salah menyanyikannya, maka pihak lain akan membetulkan.

Ketika Rasulullah wafat, otomatis ‘master kaset’nya sudah tidak ada, namun album sudah selesai dan lagu-lagu yang terdapat didalamnya sudah menyebar-luas dinyanyikan orang terus-menerus. lalu datang yang namanya Usman bin Affan, kepingin mengumpulkan lirik lagu tersebut dalam satu buku, bagaimana caranya..?? Usman membentuk panitia dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, Zaid terkenal ‘fans berat’ album Rasulullah tersebut, selalu hadir dalam setiap ‘konser’ beliau, ikut menyanyikan bersama-sama semua lagu karena dia juga hapal liriknya. Apa yang dilakukan Zaid dalam menuliskan lirik lagu-lagu tersebut..?? ternyata tidak sembarangan, pertama, dia minta sama orang yang dulunya menulis lirik ketika proses album tersebut dibuat untuk menyerahkan tulisannya, yang cuma nulis 1 lagu menyetor 1 lagu, yang menuliskan 2 lagu, menyetor 2 lagu, yang nulis semua juga tidak ketinggalan menyerahkan semua catatan lirik lagu tersebut. Zaid tidak berhenti hanya sampai disini, sebelum menyalin ke dalam buku tersebut, dia ‘menyetel kaset’ yang dimiliki oleh orang-orang. Kaset milik si A dipedengarkan, di crosscheck dengan milik si B, lalu dia melotot memperhatikan naskah lirik yang sudah diterima, baru dia tulis dalam lembaran buku tersebut.

Selesai menyalin semua lirik lagu yang terdapat dalam album tersebut, Usman kemudian memusnahkan semua naskah yang diterimanya dari orang-orang, mengapa..?? karena ini merupakan tindakan yang lumrah saja, semua lirik lagu sudah disalin dalam sebuah buku, tertulis dengan rapi, tersusun berdasarkan halaman-halaman. Lalu buat apa lagi menyimpan catatan-catatan yang bentuknya bermacam-macam tersebut…? kalau mau menyanyikan lagu tersebut, baca saja salinan yang sudah rapi, lagipula sudah banyak yang hapal lagu-lagu yang liriknya ditulis dalam buku tersebut. Apakah terjadi perdebatan..?? logikanya kalau hasil salinan yang terdapat dalam buku tersebut berbeda dengan ‘isi kaset/CD’ yang dimiliki oleh seseorang, tentu saja orang tersebut bakalan ngamuk, kalaupun tidak ngamuk karena takut sama Usman yang berkuasa, bunyi yang ada dalam kaset/CD-nya tetap saja tidak berubah, dia akan membawanya kemanapun dia pergi, lalu ketika dia memperdengarkan kepada orang lain pastilah lagu yang disampaikannya tetap berbeda dengan apa yang ditulis oleh Zaid dalam buku liriknya. Katakanlah misalnya Ibnu Mas’ud menyerahkan tulisan lirik-nya, ternyata salinan yang dibuat berbeda, tapi kaset/CD yang dimiliki tetap tidak berubah. mana mungkin isi kaset/CD bisa otomatis berubah karena lirik yang ditulis berbeda..??

Ternyata Zaid tidak hanya menyalinnya ke dalam 1 buku saja, ada yang bilang disalin dalam 6 buku, ada juga yang bilang jumlahnya 9 buku, berapapun jumlahnya yang jelas lebih dari satu. Buku-buku lirik lagu tersebut disebarkan ke wilayah sekitar yang membutuhkan, ada yang dikirim ke Mesir, ada yang ke Suriah, Irak, Yordania, dll. Hebatnya, untuk setiap tempat pengiriman tersebut, Usman mengirimkan ‘kaset/CD’ nya juga karena orang tidak bisa belajar bernyanyi hanya dari tulisan lirik yang ada diatas kertas, tapi harus MENDENGAR bagaimana lirik tersebut dinyanyikan. Jadi ketika seseorang mulai belajar menyanyikan lagu-lagu yang terdapat dalam album tersebut, mereka memegang buku liriknya sekaligus mendengarkan bunyi yang berasal dari ‘kaset/CD’ yang sudah ada ditengah-tengah mereka. Nah..salah satu kaset/CD yang disebarkan tersebut termasuk juga Ibnu Mas’ud tadi, dia dikirim ke Irak untuk ‘bernyanyi’ disana.

Orang-orang lalu menggandakan kaset/CD tersebut berdasarkan cara demikian, seperti biasanya, lagu-lagunya tetap menjadi ‘top-hit’ di kalangan masyarakat, dinyanyikan terus-menerus, diperdengarkan secara meluas, kalau ada yang salah menyanyikannya, diketawain anak kecil, karena anak kecilpun hapal lagu-lagunya. Beberapa ratus tahun kemudian, buku lirik yang ditulis Zaid tersebut sudah tidak ada lagi, tapi orang dengan gampang menyalin kembali liriknya dalam buku yang baru karena lagu-lagunya sudah dihapal dan dikenal luas. Ada yang salah menulis lirik akan cepat diketahui. Lalu apa buktinya bahwa diperjalanan tidak terjadi kesalahan yang membuat lagu-lagu tersebut berubah..?? Lihat saja faktanya sekarang, semuanya menyanyikan lagu yang sama. Kalau ada kesalahan dan dibiarkan, tentu saja akan terjadi di satu wilayah orang akan menyanyikan lagu yang berbeda, lalu berdasarkan lagu tersebut dia menulis lirik yang berbeda pula. Bisa dibayangkan kalau kesalahan tersebut berasal dari waktu awalnya, sudah pasti perbedaan tersebut makin luas terjadinya. Katakanlah Ibnu Mas’ud memang punya kaset/CD yang bunyinya berbeda, pasti orang-orang yang mendengar dia bernyanyi juga akan mendapatkan input yang berbeda, lalu menghapalkan lagu yang berbeda, menyebar-luaskan lagu yang tidak sama. Alhasil sekarang pasti di wilayah tempat dulunya Ibnu Mas’ud bernyanyi akan memiliki lagu yang berbeda, tapi faktanya koq tetap sama…??

Sekarang, setelah ribuan tahun, ada yang bilang :”Ditemukan buku lirik milik Ibnu Mas’ud yang mengakui judul yang sama, tapi memuat lagu yang berbeda, buku tersebut ditulis oleh dia yang dekat dengan Rasulullah, jadi ikut mendengar Rasulullah ‘bernyanyi’, pasti buku lirik miliknya-lah yang lebih benar..”. Masalahnya omongan ini tidak ada buktinya karena yang ngomong tersebut sama sekali tidak bisa menunjukkan mana bukunya, apalagi diwilayah mana orang menyanyikan lagu yang berbeda tersebut. Omongan ini hanya berdasarkan ‘katanya’. Lalu kita mau bilang apa..?? Semua orang tetap saja menyanyikan lagu yang sama, yang selalu populer di masyarakat, digemari secara lintas generasi, ketika generasi tua menghilang, muncul generasi baru sesudahnya yang menyanyikan lagu-lagu dari album tersebut.

Demikian penjelasan mengapa Al-Qur’an yang ada sekarang hanya ada 1 versi, kalau tidak ngerti juga, kebangetan

Kata Raja dangdut Terlaluuuu
0
JAKARTA -- Islamic Book Fair (IBF) 2013 masih terus berlangsung hingga hari ini, Ahad (3/3). Beragam acara digelar, salah satunya seperti Bedah Buku 'Pendidikan Islam Berkarakter dan Beradab' oleh Adian Husaini.

Dalam bedah buku, Adian menjelaskan mengenai Loose of Adab yaitu hal yang menjauhkan manusia dari akhlak, ukhrawi yang baik. Hal inilah yang menyebabkan kekacauan ilmu, bukan karena kebodohan. Olehnya, kita harus mulai memperbaiki konsep ilmu.

''Perbaiki ilmu, harus dimulai dengan perbaikan konsep ilmu'', ujarnya, Ahad (3/3).

Menurut Adian, adab bukanlah sopan santun namun mirip dengan adil yaitu menempatkan sesuatu sesuai dengan harkat dan martabatnya.

Ada beberapa adab yang penting yang perlu dipahami. Pertama yaitu adab kepada Allah, termasuk menjauhkan sikap syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan yang lain. Sikap syirik bukanlah sikap yang beradab. Kemudian ada Adab kepada Nabi lalu Adab kepada Ulama.

Adian juga mengatakan betapa adab lebih penting daripada ilmu. Untuk itu kita perlu mengambil ilmu, meneladani adab serta mencontoh akhlak yang baik.

Salah satu pengunjung Bedah Buku, Rani (21 tahun) mengatakan banyak mendapat manfaat dari persoalan yang disampaikan pemateri.

''Iya, tadi cuma mau ikut aja, tapi pas dengar ternyata banyak manfaatnya'', ujar mahasiswi salah satu universitas di Jakarta ini.

Islamic Book Fair ini dilangsungkan dari 1 hingga 10 Maret 2013 di Istora Senayan. Puluhan penerbit menawarkan diskon hingga 80 persen dari ratusan judul buku, Qur'an serta buku-buku tafsir dan beragam produk muslimah. (republika.co.id)
0
Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatan. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.

Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.

Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.

Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an Al-Karim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.

Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur’an, sedikit atau seluruhnya.

Komentar terhadap Kajian:

Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.

Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:

1. Pikiran yang jernih.
2. Kekuatan memori.
3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
4. Senang dan bahagia.
5. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
6. Mampu berbicara di depan publik.
7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
8. Terbebas dari penyakit akut.
9. Dapat meningkatkan IQ.
10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.

Karena itu Allah berfirman, “Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 49)

Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad Saw.
 

Youtube : Hikmah Dan Pahala Al-Quran
______
Oleh Abduldaem Al-Kaheel
> Persaudaraan Guru Pendidikan Agama Islam
0
Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc
Di saat Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilecehkan, dihina direndahkan oleh orang kafir, moment seperti ini dapat dijadikan oleh setiap muslim sebagai sebuah barometer, “Apakah ia seorang muslim yang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau malah ia seorang yang menghina atau melecehkannya?!?”.
Saudaraku muslim…
Di bawah ini disebutkan tanda-tanda seorang yang menghina, mencela dan tidak menghormati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:


Mencintai selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kecintaan yang melebihi cinta kepada beliau.
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » .
Artinya: “Abdullah bin Hisyam berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menggandeng tangan Umar bin Khaththab, lalu Umra berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai darisegala apapun kecuali dari diriku”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak (demikian), demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri”, Umar berkata: Sesungguhnya sekarang demi Allah, sungguh engkau kebih aku cintai sampai dari diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sekarang wahai Umar (benar-benar kamu beriman-pen).” HR. Bukhari.

Siapa yang masih lebih mencintai hartanya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan pembelaannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Siapa yang masih lebih mentaati selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, patut dipertanyakan, menungkin meremehkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ketaatan hasil dari kecintaan.

Menjauhi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik secara lahir ataupun batin

Allah Ta’ala berfirman:
{ وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء: 115]
Artinya: ” Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” QS. An Nisa’: 115.

Bagaimana sikap Anda terhadap ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?
Bagaimana keyakinan Anda dibandingkan keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Apakah Anda mentauhid Allah semata, tidak mensyirikkan-Nya, tidak percaya terhadap peramal, dukun, jimat, sesajen dan semisalnya

Bagaimana Ibadah Anda dibandingkan dengan Ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Apakah shalat Anda mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah dzikir Anda sesuai dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah puasa Anda mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Bagaimana tingkahlaku dan interaksi Anda mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah Anda pernah berdusta, berbuat zhalim, sombong menolak kebenaran dan merendahkan oranglain, 4

Membenci bahkan cenderung menghina ajaran Nabi shallallahu ‘alaih wasallam dan melecehkan seorang yang berpegang teguh dengan ajaran dan sunnahnya, termasuk di dalamnya meremehkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dibacakan kepadanya.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول: « فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى ».
Artinya: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.”
Siapa yang membenci ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan pembelaanya.
Siapa yang membenci tauhid, sunnah, jilbab wanita muslimah yang sesuai syariat, memanjangkan jenggot, mengangkat celana di atas dua mata kaki, makan dan minum dengan tangan kanan, siapa yang membenci semua ini, perlu dipertanyakan, “apakah ia sedang menghina Rasulullah atau menghinanya shallallahu ‘alaihi wasallam?”

Menolak hadits-hadits shahih
عَنْ أَبِى رَافِعٍ وَغَيْرُهُ رَفَعَهُ قَالَ « لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ أَمْرٌ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِى مَا وَجَدْنَا فِى كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ ».
Artinya: “Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak mendapati salah seorang dari kalian bersandar di atas kasur mewahnya, datang kepadanya sebuah perintah, yang aku perintahkan atau aku telah melarangnya, ia berkata: “Aku tidak tahu, apa yang kami dapatkan di dalam Al Quran (itu) yang kami ikuti.” HR. Tirmidzi

Siapa yang menolak hadits yang shahih, baik yang masuk dalam logikanya atau tidak, maka jangan mengaku-ngaku dia membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Siapa yang menolak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih karena lebih mendahulukan hawa nafsunya, adatnya, madzhabnya, maka bisa dipastikan ia tidak membela beliau.

Meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Karena keyakinan ini telah bertentangan dengan Firman Allah dan Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا} [الأحزاب: 40]
Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al Ahzab: 40
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ».
Artinya: “Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dibangkitkan hari kiamat sampai kabilah-kabilah dari umatku bersatu dengan kaum musyrik, dan samapi mereka menyembah berhala-berhala, dan sesungguhnya akan ada di dalam umatku 30 orang tukang dusta, seluruhnya mengaku bahwa ia adalah seorang nabi padahal aku adalah penutup para nabi tidak ada nabi setelahku.” HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 7418.

Mendahulukan perkataan seorang makhluk selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ } [الحجرات: 1]
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al Hujurat:1.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:

النهي عن التقدم بين يدي الله ورسوله
وقال تعالى يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم أي لا تقولوا حتى يقول ولا تأمروا حتى يأمر ولا تفتوا حتى يفتي ولا تقطعوا أمرا حتى يكون هو الذي يحكم فيه ويمضيه روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس رضي الله عنهما لا تقولوا خلاف الكتاب والسنة وروى العوفي عنه قال نهوا أن يتكلوا بين يدي كلامه. والقول الجامع في معنى الآية لا تعجلوا بقول ولا فعل قبل أن يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم – أو يفعل
Artinya: “(Pasal) Larangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ } [الحجرات: 1]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya adalah jangan kalian berkata sebelum ia berkata, jangan kalian memerintah sebelum ia memerintah, jangan kalian berfatwa sebelum ia berfatwa, jangan kalian memutuskan sebuah perkara sampai ia yang menjadi pemutus keputusan di dalamnya dan yang menentukannya, Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Abdullan bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma; “Janganlah kalian berkata yang menyelisihi Al Quran As Sunnah, Al ‘Aufy meriwayatkan dari beliau (juga): “Mereka dilarang untuk berbicara mendahului perkataannya.” Dan Perkataan yang menyeluruh dalam makna ayat (ini): Janganlah kalian tergesa-gesa dengan perkataan atau perbuatan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya atau melakukannya.” Lihat kitab I’lam Al Muwaqqi’in, 1/51.

Dan keyakinan ini akhirnya diamalkan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum sampai kepada para imam, yaitu tidak berbuat dan berkata yang mendahului perbuatan dan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan perkataan dan perbuatan siapapun dari makhluk jika sudah jelas perkataan dan perbuatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mari perhatikan perkataan-perkataan berikut:
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

تَمَتَّعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنِ الْمُتْعَةِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا يَقُولُ عُرَيَّةُ قَالَ يَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنِ الْمُتْعَةِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَيَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ.
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhaji dengan cara tamattu’”, lalu berkata ‘Urwah bin Az Zubair: “Abu bakar dan Umar melarang akan haji tamattu’”, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertanya: “Apa yang dikatakan oleh Urayyah?”, dijawab: “Ia mengatakan bahwa Abu bakar dan Umar melarang akan haji tamattu’”, maka Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menanggapinya: “Aku berpendapat mereka akan celaka, aku sedang mengatakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dan ia (malah) mengatakan Abu Bakar dan Umar melarang(nya).” HR. Ahmad
Perhatikan saudaraku muslim…

Jika perkataan dua orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Abu Bakar dan Umar saja tidak boleh ditanding dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana dengan seorang yang kedudukan tidak seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.!!!

Pantaslah dikatakan menghina dan merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang lebih mendahulukan perkataan kyainya, habibnya, tuan gurunya, ustadznya daripada hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perhatikan perkataan Imam Nashir As Sunnah (pembela sunnah) Al Imam Asy Syafi’ie rahimahullah berkata:
( أجمعَ الناسُ على أنه مَن استبانَتْ له سنةُ رسولِ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم لَمْ يكنْ له أنْ يدَعَها لقولِ أحدٍ )
Artinya: “Para ulama bersepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sebuah sunnah/ajaran/hadits Rasulullah, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena perkataan seorangpun.” Lihat kitab Ar Ruh, 264 dan kitab I’lam Al Muwaqqi’in, 2/282, kedua karya Ibnul Qayyim dan kitab Al Ittiba’, hal. 24, karya Ibnu Abu Al ‘Izz.

Perhatikan juga perkataan Imam Ahlus Sunnah Al Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah:

” عجبت لقوم عرفوا الإسناد وصحته ويذهبون إلى رأي سفيان – أي الثوري – والله تعالى يقول : ((فَلْيَحْذَرِ الَذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ)) أتدري ما الفتنة؟ الفتنة الشرك، لعله إذا ردّ بعض قوله ، أن يقع في قلبه شيء من الزيغ فيهلك .
Artinya: “Aku heran terhadap suatu kaum yang telah mengetahui sanad dan keshahihannya, mereka (malah) pergi kepada pendapatnya Sufyan (Ats Tsaury), padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

((فَلْيَحْذَرِ الَذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ))
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”, tahukah kamu apa itu fitnah/cobaan?, fitnah/cobaan itu adalah kesyirikan, mungkin jika ia menolak sebagian sabdanya, akan terdapat di dalam hatinya sesuatu dari penyimpangan maka akhirnya ia binasa.” Lihat kitab Al Furu’, 6/375, karya Ibnu Muflih dan kitab Ash Sharim Al Maslul, karya Syaikhul Islam, 2/116-117.

Tidak Mengenal Sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Terasa aneh seseorang yang tidak mengenal sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengaku membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi, bukankah pembelaan adalah buah hasil mencintai dan bukti seseorang mencintai adalah selalu mengingatnya, dan mengingatnya tidak akan sempurna kecuali dengan mengenal sejarahnya. Oleh sebab itulah para ulama mengatakan:
إِنَّ مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ
Artinya: “Sesungguhnya Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan banyak mengingatnya.”
Mungkin ada dari sebagian orang yang mengaku membela Rasulullah lebih mengenal sejarah orang lain dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan lebih ironi lagi orang lain itu adalah orang kafir!!
Padahal umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 63 tahun, yang mana sejarah beliau dengan mudah dibaca apalagi buku-buku sejarah di zaman sekarang sudah diterjemahkan dan diteliti riwayat-riwayatnya!

Melakukan bid’ah di dalam beragama

Melakukan perbuatan bid’ah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan amalan pelaku bid’ah tidak akan diterima berdasarkan penegasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
” مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ “
Artinya: “Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalannya tertolak.” HR. Muslim

Dan hal ini termasuk meyakini adanya bid’ah hasanah, karena siapa yang melakukan atau mengaku adanya bid’ah di dalam Islam maka secara tidak langsung ia telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak amanah, berkhianat terhadap Allah akan beban risalah yang telah diwahyukan oleh Allah Ta’ala kepada beliau agar disampaikan kepada umatnya. Mari perhatikan perkataan Imam Darul hijrah Al Imam Malik rahimahullah:

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة ، لأن الله يقول : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لم يكن يومئذ دينا ، فلا يكون اليوم دينا
Artinya: “Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala berfirman: “Hari telah Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Jadi, apa saja yang pada hari ini bukan sebagai agama, maka tidaklah hari ini dia menjadi agama.” Lihat kitab Al ‘Itisham, 1/49.

Tidak bershalawat ketika disebutkan nama Nabi shaallallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya

Seorang yang malas bershalawat terutama ketika diucapkan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya, maka perlu dipertanyakan pembelaannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ia adalah orang yang bakhil!

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang bakhil adalah yang aku disebutkan di hadapannya dan ia tidak bershalawat atasku.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih AL Jami’, no. 2878.
Saudaraku muslim…

Masih banyak tanda seorang yang melecehkan, menghina dan merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga yang sedikit ini bermanfaat. wallahu a’lam.

Ahmad Zainuddin Ahad, 7 Dzul Qa’dah 1433H Dammam, KSA
Artikel: DakwahSunnah.com 
0
Harun Yahya
Pemerintahan Indonesia mewakili sebuah negeri Muslim taat yang menghargai Islam dan memahami serta menerapkan nilai-nilai ajaran mulianya. Sungguh jelas bahwa kepala negara Indonesia dan rakyatnya berbagi nilai-nilai kebaikan yang sama dan memiliki penghargaan istimewa terhadap Islam, dan karenanya merupakan bangsa yang terpuji.

Persengketaan dan perpecahan yang secara khusus ditujukan terhadap masyarakat yang menaati dan menghargai Islam adalah buah dari kekacauan, teror dan rasa permusuhan yang sengaja dibuat oleh pola pikir materialis dan Darwinis agar timbul di dalam masyarakat. Sebagaimana yang terjadi di mana pun di dunia ini, kekuatan berpaham Darwinis, Marxis dan ateis ini mengira bahwa mereka dapat mengadu domba saudara-saudari kita sesama Muslim yang tulus di Indonesia agar saling baku hantam melalui perselisihan dan tipu daya. Mereka berupaya menanamkan kemarahan dan kekerasan di antara kaum Muslim dengan menimbulkan persengketaan yang sengaja dibuat.

Di sebuah negeri yang dihuni oleh orang-orang saleh yang menghormati Islam, segala bentuk pemberontakan yang sengaja dimunculkan melawan negara yang dipicu akibat pengaruh kekuatan-kekuatan ini beserta pola pikir Darwinis, Marxis dan ateis mereka akan melukai kedua belah pihak dan menyebabkan timbulnya peperangan yang tidak perlu. Untuk menghindari dan menghapuskan hasutan kekuatan Darwinis, materialis ini yang tujuannya adalah merusak persatuan dan kesatuan negara serta memecah belah bangsa mereka melalui separatisme, dan mempertahankan agar kedamaian, kesejahteraan dan keamanan meliputi negeri itu, masyarakat wajib dididik untuk memerangi pola pikir Darwinisme, materialisme, Marxisme dan Leninisme, ateisme, Zionisme ateis, Freemasonry dan imperialisme. Pendidikan intelektual dan budaya seperti itu sama sekali tidak bisa diabaikan.

Itulah mengapa sedemikian penting untuk mendorong rakyat Indonesia menyebarkan nilai-nilai ajaran yang baik dan mengembangkan kegiatan-kegiatan bersifat budaya dalam rangka menghapus makar Darwinis dan ateis terhadap negeri-negeri Muslim. Caranya bisa memanfaatkan sarana teknologi dalam rangka menjelaskan kepada masyarakat bahwa pola pikir Darwinis bertumpu pada landasan berpijak yang keliru dan rapuh.

Islam dan Al Qur’an dapat dijelaskan ke lebih banyak orang, beserta seruan agar menjalankan nilai-nilai akhlak baik, melalui penyampaian tulisan dan lisan dan dengan membuat situs-situs internet baru. Melalui cara ini, orang semakin mampu mengokohkan rasa cinta kepada Allah dalam hati mereka dan dengan demikian memperlakukan satu sama lain dengan rasa kasih sayang dan tenggang rasa.

Mereka dapat dididik untuk mencegah malapetaka akibat Darwinisme serta semua persengketaan dan keruntuhan akhlak yang ditimbulkannya. Sekali mereka telah mengenal keindahan nilai-nilai akhlak Islami, mereka akan lebih mencintai satu sama lain. Ketika tabiat kebohongan Darwinisme dan materialisme diungkap dan dijelaskan kepada mereka, maka sirnalah pembenaran akal bagi permusuhan dan perselisihan yang sengaja dimunculkan; kekacauan dan perselisihan akan kehilangan semua maknanya dan mulai tampak sama sekali tidak masuk akal. Persengketaan yang sengaja dibuat pasti mustahil muncul dalam lingkungan seperti itu.

Dunia Islam memerlukan persatuan dan kesatuan, persahabatan, kedamaian dan akhlak mulia yang dikehendaki oleh nilai-nilai ajaran Islam. Dengan mewujudkan hal ini melalui kegiatan intelektual dan budaya, masyarakat Indonesia dapat memimpin gerakan penting ini dan menjadi teladan sangat baik bagi dunia selebihnya.

Lihat Sumbernya
0
Oleh Rosyid Nurul Hakim
Di era penjajahan Prancis, umat Islam dijadikan kepala dan sekertaris daerah bagi wilayah yang dihuni oleh penduduk yang sebagian besar non-Muslim.


Burkina Faso. Negara di Afrika Barat yang terkurung daratan itu mayoritas penduduknya beragama Islam. Menurut data yang dihimpun Pew Research Center  dalam laporan Pemetaan Populasi Muslim di dunia pada 2009, sebanyak 59 persen penduduk negeri yang dulunya dikenal dengan nama Republik Volta Hulu (Upper Volta) itu adalah Muslim.

Jumlah pemeluk Muslim di negara yang berbatasan dengan Mali di sebelah utara; Togo dan Ghana di selatan; Niger di timur, Benin di tenggara; dan Pantai Gading di barat daya itu mencapai 9,29 juta jiwa. Burkina Faso merupakan nama yang diberikan Presiden Thomas Sankara, saat memimpin negeri itu pada 4 Agustus 1984.

Sejak kapan Islam bersemi di ‘’Negara Orang Jujur’’ itu? Adalah emas yang membuka jalan bagi umat Islam untuk masuk ke Burkina Faso, sebuah negara miskin di daerah Afrika Barat. Sebelumnya, dari abad XI sampai  XIX, Burkina Faso didominasi oleh Kerajaan Mossi.

Kerajaan ini sangat ketat dengan agama yang dianut oleh masyarakatnya. Dengan segala cara mereka berupaya untuk membentengi masyarakatnya dari agama asing, termasuk Islam. Celah masuknya Islam ke negara itu baru terbuka pada sekitar abad XV.

Ladang emas Akan yang dibuka untuk publik mampu membetot perhatian pedagang Muslim. Melihat adanya peluang keuntungan, para saudagar Muslim pun membangun tempat tinggal di negara yang sempat menjadi koloni Prancis itu. Daerah-daerah di Afrika Barat memang dipercaya memiliki kandungan emas yang banyak.

Daerah kaya emas itu berada di daerah Greenstone Belts. Sabuk emas itu membentang sepanjang 3 juta kilometer persegi di Afrika Barat. Burkina Faso dipercaya memiliki cadangan sekitar 21 persen dari sabuk tersebut. Selain karena emas, para pedagang juga melihat adanya kesempatan memperjualbelikan kacang kola dan garam.

Para saudagar Muslim itu sebagian besar berasal dari orang-orang berbahasa Soninke dari daerah Timbuktu dan Djenne. Lama kelamaan mereka mengadaptasi dialek suku Malinke yang kemudian membuat mereka disebut orang-orang Dyula. Mereka membangun tempat tinggal di kota Bobo-Dyulasso, Kong, Bunduku, atau kota lain yang dekat dengan ladang emas.

Islam mulai menyebar mulai lewat perkawinan antara para saudagar Muslim dengan penduduk setempat. Seiring waktu, generasi-generasi Muslim baru bermunculan dari hasil perkawinan tersebut. Komunitas Muslim pun semakin meluas. Kelompok Muslim pun tanpa terasa sudah dianggap menjadi bagian dari masyarakat Kerajaan Mossi.

Orang-orang Dyula juga sangat peduli dengan pendidikan Muslim bagi generasi di bawah mereka. Setiap keluarga berkewajiban untuk mengajarkan Islam bagi anak-anaknya. Dalam struktur komunitas Muslim di sana, terdapat sebuah posisi yang disebut Karamoko, mereka adalah para ulama yang mengerti  Alquran, tafsir, hadis, dan  sejarah Nabi Muhammad.

Seorang Karamoko harus belajar giat agar bisa mendapatkan sorban dan ijazah sebagai tanda atau surat izin untuk mengajarkan Islam. Penyebaran Islam yang pesat di Burkina Faso, saat ini sekitar 60 persen penduduknya beragama Islam, juga dibantu oleh cara Prancis memerintah di negara tersebut.

Prancis menjadikan Burkina Faso sebagai daerah kolonialnya pada tahun 1919. Berbeda dengan kebijakan Kerajaan Mossi, pemerintahan kolonial ini justru tidak alergi dengan Islam. Mereka justru membantu penyebarannya Islam secara damai melalui perdagangan. Pihak kolonial menganggap umat Muslim, baik secara kultur maupun pendidikan jauh lebih baik dari sebagian masyarakat Afrika yang belum memeluk agama Islam.

Kepercayaan pemerintahan kolonial itu diwujudkan dengan diberikannya posisi penting bagi Muslim. Pemeluk agama Islam di Burkina Faso dijadikan kepala dan sekertaris daerah bagi wilayah yang dihuni oleh penduduk yang sebagian besar non-Muslim. Sehingga, angka pemeluk agama Islam di negara itu meningkat signifikan.

Pada akhir abad XIX, angka  Muslim hanya sekitar 30 ribu jiwa saja. Pada 1959, karena pengaruh pemerintahan kolonial, jumlahnya menjadi 800 ribu jiwa. Itu artinya, pada masa itu,  sekitar 20 persen penduduk Burkina Faso sudah memeluk Islam.

Hal lain yang mempengaruhi jumlah penduduk Muslim di Burkina Faso, menurut H Chmaza dari Universitas YARSI dalam tulisannya di Majalah Al-Hijrah, adalah adanya konflik horizontal di Pantai Gading pada  2002. Pihak oposisi dalam konflik tersebut, Allasane Dramane Ouattara, dianggap masih memiliki daerah Burkina Faso.

Sehingga para pengikutnya yang mayoritas Muslim mengungsi ke Burkina Faso dan menetap di negara itu. Menurut Chmaza, beberapa tokoh Muslim memiliki peran penting dalam perkembangan negara Burkina Faso. Seperti Menteri Luar Negeri, Yousouf Ouedraogo, Pengusaha terkenal EI-Hajj Oumarou Kanazae, Souleymane Kore, Mamadou Sawaidogu dan Al-Haji Sakande.

Meskipun saat ini Burkina Faso menjadi negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, konstitusinya masih memberikan kebebasan beragama bagi warga negaranya. Pemerintah sama sekali tidak mentoleransi kekerasan terhadap agama lain.

Burkina Faso juga tidak menjadi negara berdasarkan agama. Berdasarkan laporan pemerintah Amerika Serikat tahun 2005, baik Islam, Kristen ataupun agama tradisional di Burkina Faso bisa dengan bebas melakukan ibadah atau kegiatan keagamaan mereka yang lain tanpa ada campur tangan dari pemerintah.

Hukum negara itu juga memberikan kebebasan bagi setiap agama untuk mengekspresikan diri mereka. Berbagai macam publikasi, siaran radio atau televisi bernuansa agama diperbolehkan asal tidak menghina atau memicu konflik.
0
Kebesaran Allah
Pengantar Admin :

Saya punya buku yang berjudul “JASAD PARA SYUHADA TAK MEMBUSUK” karya Dr. Abdul Hamid Al-Qudhah, penerbit Zam-Zam. Buku ini menceritakan banyak kisah yang diceritakan saksi mata dari masa-kemasa tentang Jasad Para syuhada yang sama sekali tidak membusuk. Buku ini juga menjelaskan secara ilmiah tentang bagaimana mikroba-mikroba anaerob yang sama sekali tidak “sudi” untuk menggerogoti sel-sel jenazah Para nabi, mayat para syuhada juga para hafidz Qur’an. Tidak akan ada kaum rasionalis dan skeptis yang akan mempercayai fenomena ini namun kita sebagai umat Islam harus percaya dan mengimaninya sebab sudah diceritakan Rasulullah dalam haditsnya……..


Penjelasan awal

Ilmu Kedokteran telah mampu mendeteksi prose-proses pembusukan mayat (degradasi organisme) di dalam kubur, sejak ruh menginggalkan tubuh hingga tubuh berubah menjadi gas, cairan dan ammonia. Firman-Nya”…….. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya” ( Al-A’raf :29). Mikroba bekerja bersama pihak lain dalam menyelesaikan tugas ini, khususnya mikroba-mikroba anaerob yang hidup didalam usus manusia, enzim-enzim yang terlepas dari sel-sel setelah tubuh menginggal dan larva-larva tanah yang berkembang biak dengan sangat cepat. Mereka semua menggerogoti sel-sel mayat dengan sangat lahap. Namun Fenomena ini tidak berlaku pada jasad Nabi, Syuhada juga jasad   orang hafidz Qur’an . Tubuh mereka masih tetap utuh dan kebal terhadap bakter-bakteri pembusuk tersebut. Meski telah terkubur berpuluh-puluh tahun lamanya. Seakan-akan mereka masih hidup berada di tengah-tengah kita. Benarlah apa yang disampaikan oleh Allah Ta’ala,” Janganlah kamu  mengira orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati;bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.(Ali Imran;169). Sejarah telah menjadi saksi akan keutuhan jazad mereka dan tetap akan bertutur kepada manusia mengenai kondisi mereka.


Jasad utuh pada zaman Rasulullah :

Jabir bin Abdillah bercerita : “menjelang perang Uhud ayahku memanggilku pada malam hari. Ia berkata,’Aku merasa akan menjadi orang pertama yang gugur diantara sahabat rasulullah. Sungguh aku tidak meninggalkan seorangpun yang lebih aku sayangi disbanding kamu disamping diri Rasululullah. Sesungguhnya aku memiliki hutang maka lunasilah. Dan, bersikaplah yang baik kepada sudara-saudara perempuanmu. Keesokan harinya iapun menjadi orang yang pertama gugur. Ia dimakamkan bersama yang lain dalam satu kubur. Tetapi hatiku merasa kurang nyaman membiarkan ayahku berbagi kubur dengan orang lain. Karenanya selang eman bulan kemudian, aku membongkar makamnya dan mengeluarkannya. Ajaib, jazadnya masih utuh seperti ketika aku mnguburkannya ( Diriwayatkan oleh Bukhari)

Jasad utuh para suyuhada mujahidin mesir 

Diantara fakta dan karamah yang menakjubkan ini adalah seperti yang diceritakan oleh Dr. Mahmud An-Najjar dosen ilmu arkeologi dengan spesialisasi tulang manusia di Universitas Yarmuk Yordan. Saya berkesempatan mendengar langsung penuturannya tentang apa yang disaksikan dengan kedua matanya terkait  jasad para syuhada pasukan Mesir yang berjihad di palestina melawan pasukan Yahudi tahun 1948 M. mengungkapkan bahwa pada tahun 1956, beliau turut hadir bersama saudara kandungnya dalam acara penghormatan untuk para syuhada tentara Mesir. Dalam acara yang memperlihatkan kurang lebih 45 jasad syahid lengkap dengan seragam mereka, beliau menyaksikan langsung kondisi tubuh mereka masih utuh  seperti sedia kala walaupun kematian mereka terjadi 8 tahun silam.


Jasad Utuh Kyai Abdullah rahimahullah di Indonesia

http://www.detiknews.com/read/2009/08…
Jakarta – Tiga bak berisi air dan potongan kayu ukuran 70 cm x 30 cm telah disiapkan anak-anak almarhum KH. Abdullah. Saat itu, Minggu 2 Agustus 2009, makam Kiai Abdullah akan
dipindahkan lantaran di lokasi itu terkena proyek pelebaran Jalan Benda, Batu Ceper,
Tangerang, yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Air yang ada di dalam bak itu rencananya akan digunakan untuk mencuci tulang belulang sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman yang baru. Sementara potongan kayu sengon sebanyak 9 potong diperuntukkan sebagai dinding pembatas jenazah di dalam liang lahat.

“Saya sudah beberapa kali melihat proses pemindahan kuburan di Karet Bivak, Jakarta
Pusat. Persiapannya memang seperti itu,” kata Achmad Fathi, anak ketiga Kiai Abdullah.
Namun semua perlengkapan itu akhirnya tidak terpakai. Soalnya, ketika makam yang berusia 26 tahun digali, pemandangan aneh terjadi. Jasad Kiai Abdullah ternyata masih utuh. Begitu juga dengan kain kafan dan kayu penutup jenazah. Tidak ada tanda-tanda bekas gigitan rayap atau binatang tanah di kafan maupun di kayu kamper tersebut.

Sementara Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah, yang mengangkat jenazah ayahnya dari liang lahat mengaku sempat kaget. Soalnya kondisi jenazah hampir sama seperti saat dikuburkan, 22 Oktober 1983 silam. “Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu.

Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih” jelas Mukhtar.
Mukhtar dan keluarganya semakin kaget, jenazah juga beraroma harum yang menyerbak. Wanginya, kata Mukhtar, tidak seperti parfum-parfum yang ada di toko-toko minyak wangi. Teriakan takbir pun langsung terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.

Yang juga dirasa aneh oleh keluarga, ribuan warga tiba-tiba berdatangan mengikuti prosesi pemindahan jenazah. Padahal keluarga tidak memberi pemberitahuan kepada warga maupun murid-murid Kiai Abdullah. Mereka tiba-tiba saja datang.

“Awalnya pemindahan jenazah itu hanya dilakukan keluarga. Paling hanya 20 orang. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saat jenazah digali orang-orang sudah banyak berkumpul,” ujar Mukhtar.
Saking banyaknya orang yang datang, imbuh Mukhtar, mobil dan motor pelayat yang terparkir di sisi jalan Benda, panjangnya mencapai 5 kilometer sehingga membuat kemacetan yang luar biasa di jalan tersebut.
Beberapa warga yang ditemui detikcom menuturkan, sebelum proses pemindahan jenazah, sebenarnya tanda-tanda keanehan sudah muncul terkait rencana pemindahan makam tersebut. Sebab saat alat berat
ingin menghancurkan musala dan bangunan makam, tidak bisa berfungsi. Beberapa kali alat pengeruk dari mobil beko patah ujung kukunya.

Karena kejadian itu, pihak kontraktor pelebaran jalan menunda pembongkaran yang rencananya akan dilakukan pada Januari 2009 itu. Pembongkaran baru bisa dilanjutkan awal Agustus setelah ada kesepakatan dengan keluarga. Salah satunya soal cara pembongkaran musala dan makam itu, yakni dengan hanya menggunakan palu dan linggis. Bukan pakai alat berat.

Keluarga Kiai Abdullah sebenarnya menyayangkan kalau musala itu dibongkar. Sebab musala yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu sangat dibutuhkan warga setempat untuk beribadah.

Musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu sejak dibangun Kiai Abdullah tahun 1950-an sudah mengalami beberapa pemugaran dan pelebaran. Hingga menjadi semakin luas dan bangunannya menjadi permanen.
Namun pada 2007, Pemkot Tangerang ternyata punya rencana melakukan pelebaran jalan Benda, Juru Mudi, Batu Ceper, yang berada di sepanjang Sungai Cianjane. Musala dan makam itu kebetulan berada di lokasi yang akan dijadikan akses jalan sehingga terpaksa harus digusur.

Tanah yang akan digusur dihargai Rp 500 ribu per meter. Harga itu belum termasuk bangunan yang akan dibongkar. Tapi keluarga Kiai Abdullah menolak pemberian uang pengganti. Pasalnya , tanah tempat musala dan makam itu merupakan tanah wakaf yang tidak boleh diperjualbelikan.

Pihak keluarga hanya meminta Pemkot membangun kembali musala di sekitar wilayah Juru
Mudi, supaya warga setempat mudah kalau ingin beribadah. “Sepeser pun kami tidak menerima uang penggantian. Biaya pemindahan jenazah saja kami tanggung sendiri, sekalipun Pemkot sudah menawarkan” jelas Mukhtar, anak sulung Kiai Abdullah.

Kini jenazah Kiai Abdullah dimakamkan di depan pekarangan rumah Achmad Fathi, yang berjarak hanya 15 meter dari lokasi pemakaman sebelumnya. Di areal pemakaman baru itu terdapat tiga makam, yakni makam KH Abudullah bin Mukmin, makam istri keduanya Maswani, serta makam putra keduanya yang bernama M Syurur.

Rencananya, areal makam itu akan diperluas lantaran setiap hari banyak orang yang datang untuk berziarah, terutama setelah tersiar kabar jasad Kiai Abdullah masih utuh meski dikubur selama 26 tahun. Bahkan untuk memudahkan para peziarah, keluarga bermaksud membangun musala di samping areal makam

Lihat Video : http://youtu.be/vJ5Vt8zXjrc

para dokter berusaha mengilmiahkan fenomena ini dengan mengatakan mayat bisa utuh karena tanah yang banyak mengandung kapur, namun tetaplah tidak akan masuk dilogika karena kondisi tubuh Kyai masih tetap tidak ada perubahan seperti tubuh manusia hidup tanpa ada kerusakan sedikitpun (TIDAK BERKERUT, TIDAK ADA BAGIAN TUBUH YANG HANCUR/HILANG) bahkan kain kafannya tidak rusak dimakan tanah.

Lihat Video : http://youtu.be/9PB_6VnJCiE

Kesimpulan Admin:

Wahai saudaraku para pengunjung blog ini, mari kita raih ridho Allah dengan menjadi bagian dari mereka yang mendapatkan karomah jasad yang tidak hancur dimakan oleh “zaman”.  Mari kita menjadi mu’adzin al-muhtasibin , sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Umar: rasulullah bersabda,” Mu’adzin al-muhtasibin (yang mengharap pahala disisi Allah) seperti seorang syahid yang berlumuran darah. Apabila dia mati jasadnya tidak dimakan belatung didalam kuburnya” ( Diriwayatkan oleh Mundziri dalam At-targhib wat Tarhib,I:181.no.24)

Sumber : Metafisis 
0
Siapa yang tidak tahu atau tidak hafal dengan ayat kursi, silahkan dipelajari karena begitu besar manfaat dan khasiatnya dalam melindungi diri sendiri, keluarga maupun rumah dari tipu daya setan yang terkutuk.

Ayat kursi memiliki banyak fadilah atau keutamaan. Salah satunya adalah bisa untuk menaklukkan makhluk halus.

Hal ini seperti yang dilakukan oleh Saudagar kaya raya bernama Ka'ab yang membunuh Jin Ifrit dengan bacaan Ayat Kursi.

Pada Suatu hari, seorang pedagang bernama Ka'ab melakukan perjalanan ke negeri Basrah.
Ia membawa barang dagangannya untuk dijual. Setelah Ka'ab sampai di Basrah, dia mencari tempat penginapan, akan tetapi semua penginapan pada hari itu ternyata tidak ada yang kosong.
Semua telah dipesan oleh pedagang yang lebih dahulu datang sebelum Ka'ab.

Karena kehabisan penginapan, Ka'ab berinisiatif mencari tempat istirahat. Ia kemudian menemukan sebuah rumah kosong yang pada dindingnya terdapat banyak sarang laba-laba. Ka'ab akhirnya berhasil menemui pemiliknya. Ia bermaksud menyewa rumah itu selama kurang lebih satu minggu.
"Rumah ini aneh sekali, selalu menjadi pembicaraan masyarakat disini," kata si pemilik rumah.
"Apa yang terjadi pada rumahmu in?" tanya Ka'ab.
"Kata beberapa orang, rumah ini didiami oleh Jin Ifrit. Sudah banyak orang yang mencoba menempatinya, namun akhirnya mereka semua binasa," jelas si pemilik rumah.

Rumah Kosong Lama Tak Berpenghuni.
Merasa terpaksa karena tidak menemukan penginapan, akhirnya Ka'ab bersedia menempati rumah kosong itu.
"Meskipun orang lain berkata demikian, saya sanggup tinggal disini asalkan Tuan mengizinkan saya," pinta Ka'ab.
"Baiklah, saya tidak keberatan dan saya tidak akan meminta bayaran sedikitpun," jawab si pemilik rumah.

Ka'ab akhirnya tinggal di rumah kosong yang angker itu. Pada malam itu, tidak ada hal ganjil yang dialaminya. Keesokan harinya Ka'ab berkeliling untuk menjual barang dagangannya, dan ketika matahari hampir terbenam, ia kembali pulang.
Malam itu Ka'ab mengalami beberapa keanehan. Matanya sulit sekali untuk dipejamkan.

Kemudian dalam kondisi yang sepi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok bayangan hitam yang memiliki dua mata menyala-nyala seperti bara api yang mendekatinya. Maka secara spontan, Ka'ab terjaga dan membaca ayat Kursi.
Akan tetapi bayang-bayang itu tidak menghilang, malah sosok hitam itu turut mengikuti apa yang dibaca oleh Ka'ab, hingga hampir sampai pada akhir ayat Kursi.

Jin Ifrit Tewas oleh Ayat Kursi.
Akan tetapi setelah Ka'ab membaca akhir ayat Kursi Walaa Yauduhu khifzuma wa huwal aliiyul 'adzim, bayang-bayang hitam itu lenyap dan suaranya sudah tidak terdengar lagi.
Ka'ab heran dan ia terus mengulangi bacaannya hingga ayat Kursi yang terakhir untuk memastikan bayang-bayang hitam itu benar-benar hilang. Lenyapnya Jin Ifrit itu disertai bau seperti barang yang terbakar.

Keesokan paginya, Ka'ab mendapati di salah satu sudut rumah itu terdapat bekas-bekas abu seperti ada sesuatu yang telah terbakar. Di saat itu, Ka'ab mendengar suara gaib,
"Hai Ka'ab, engkau telah membakar Jin Ifrit yang kuat."
"Dengan apa aku membakarnya?" tanya Ka'ab.
"Dengan firman Allah, alaa Yauduhu khifzuma wa huwal aliiyul 'adzim,"jawab suara gaib itu.

Demikian kisah Tewasnya Jin Ifrit oleh Ayat Kursi.
Seperti diketahui, Ayat Kursi diwahyukan kepada Rasulullah SAW diiringi oleh ribuan malaikat karena kebesaran dan kesucian ayat tersebut. Karena itu, Jin Ifrit yang kuat pun tidak mampu menahan kehebatan Ayat Kursi.
0

Ma Yize

Oleh Desy Susilawati/ Heri Ruslan

Ketika Dinasti Song berkuasa pada  abad ke-10 M, ternyata peradaban Islam telah turut berjasa dalam mengembangkan sains dan teknologi di Tiongkok. Selama ini, sejarah kerap menyebutkan ilmu pengetahuan dari dunia Islam  berkembang di Cina pada masa kekuasaan Dinati Yuan ((1206-1279).

Ternyata, sains Islam terutama astronomi telah mempengaruhi peradaban Cina  sejak zaman Dinasti Song.

Hal itu sangat beralasan. Apalagi, di masa itu dunia Islam – di Timur Tengah -- sedang mencapai masa keemasannya.   Isa Ziling Ma dalam tulisannya bertajuk ''Islamic Astronomy in China: Spread and Development" menuturkan, astronomi Islam menyebar ke Cina pada era Dinasti Song (960-1127). Sayangnya, papar Isa, bukti resmi yang mencatat peristiwa penyebaran sains Islam di Cina pada zaman itu nyaris tak ada.

''Sejarah secara detail baru mencatat penyebaran astronomi Islam ke Cina pada era Dinasti Yuan,'' ungkap Isa.  Penyebaran astronomi Islam  di Tiongkok  ternyata memang telah berlangsung pada era kekuasaan Dinasti Song. Fakta itu terkuak setelah seorang ilmuwan Taiwan bernama Pof Luo Xianglin pada tahun 1968 menemukan sebuah buku berjudul ''The Huai Ning  Ma Family Tree”  di Perpustakaan Studi Asia Timur, Columbia University, AS.

Prof Luo  menemukan fakta bahwa astronomi Islam memang telah berkembang di Cina pada masa Dinasti Song. Penyebar astronomi Islam di Cina, menurut Prof Luo, adalah Ma Yize. Buku "The Huai Ning Ma Family Tree" itu menjelaskan silsilah klan Ma Yize. Menurut buku itu,  Ma Yize adalah astronom terkemuka di Cina. Ia terlahir di Rumi pada bulan  Rabiul Awal tahun 308 H.

Ia datang ke Cina pada usia 40 tahun. Pada zaman itu,  penguasa Dinasti Song sangat tertarik pada sains.  Kaisar Taizu (berkuasa 950-976) begitu mengagumi studi astronomi yang telah berkembang sangat pesat di dunia Islam. Sang Kaisar pun berupaya keras untuk mengembangkan  ilmu yang menguak rahasia langit itu. 

Pada tahun 961 M, Kaisar Taizu kemudian menunjuk seorang ilmuwan bernama Ma Yize untuk mengembangkan astronomi di Cina. Ma Yize adalah  astronom dan astrolog Muslim yang sangat termasyhur di zaman itu.  Berdasarkan versi lain,  Ma Yize a merupakan ilmuwan  berdarah Arab. Konon, nenek moyangnya berasal dari  Semenajung Arab  yakni wilayah perbatasan antara Yaman dengan Oman.

Karier pertamanya di bidang astronomi  dimulai dengan membantu Wang Chuna mengumpulkan beberapa karya astrologi, termasuk Yingtianli -- sebuah kalender. Ia mengembangkan astronomi dan mengamati alam semesta dengan metode Islam. Berbagai temuan Ma Yize dalam astronomi dan astrologi kemudian dikumpulkan Wang Chuna dalam Yingtianli.

Pembuatan karya besar yang dilakukan dua astronom kenamaan Dinasti Song itu tuntas pada tahun 963 M. Pengaruh astronomi Islam begitu banyak diserap dalam Yingtianli. Penghitungan, seminggu tujuh hari yang dipakai kalender Cina itu menggunakan sistem kalender Islam. 

Kehebatan Ma Yize dalam bidang astronomi membuat Kaisar Taizu mendapuknya sebagai pejabat kepala observatorium astronomi Dinasti Song.  Popularitas Ma Yize di masa kekuasaan Dinasti Song pun kian moncer.

Tak ada astronom di Cina yang mampu menandingi ketenarannya, saat itu.  Berkat prestasinya yang gemilang memimpin observatorium astronomi, Ma Yize pun kemudian dianugerahi gelar bangsawan.

Salah satu jasa Ma Yize bagi astronomi  di negeri Tiongkok adalah memperkenalkan matematika astronomi Islam.  Sang astronom Muslim pun menyebarkan pemikiran astronom Muslim dari peradaban Islam di Timur Tengah .Sederet kitab astronomi Islam diterjemahkannya ke dalam bahasa Cina. Kitab-kitab yang mempengaruhi dunia astronomi Cina itu antara lain; Kitab al-Zij karya Abu Abdullah Al-Battani; Kitab al-Zij al-sabi; Kitab Matali' al-Buruj; serta Kitab Aqdar al- Ittisalat.

Kitab astronomi yang dialihbahasakan  Ma Yize itu merupakan hasil karya astronom Muslim seperti Muhammad Al-Fazari, Al-Battani, Al-Biruni, As-Shufi (Azhopi), A- Khawarizmi, Al Farghani, dan lain-lain. "Kemungkinan Ma telah dipengaruhi oleh Al-Battani dan al-Hamdani,"  Prof Fung Kam Wing seorang guru besar pada  University of Hong Kong. Faktanya, Ma Yize memang banyak menerjemahkan karya astronomi kedua ilmuwan Muslim tersebut.

Jasanya bagi pengembangan astronomi modern di Cina sungguh tak ternilai. Boleh dibilang, Ma Yize adalah salah seorang pelopor sekaligus peletak pondasi  ilmu astronomi modern  di Cina.  Berkat kontribusinya yang tak ternilai dalam mengembangkan astronomi dan astrologi, para penguasa Cina pun menempatkan keturunan Ma Yize sebagai kaum bangsawan.

Setelah wafat pada tahun 1005 M, jejak  Ma Yize dalam mengembangkan astronomi di Cina dilanjutkan anak dan cucunya. Menurut  catatan Huai Ning Ma Family Tree,  Ma Yize memiliki tiga anak. Yang tertua bernama  Ma Er atau Mail berasal dari singkatan Ismail. Setelah usia Ma Yize semakin sepuh, Ma ER kemudian menggantikan posisi ayahnya  sebagai    ketua pengelola observatorium.

Menurut Isa, putera keduanya bernama Ma Huai dan yang bungsu bernama Ma Yi. Mereka juga turut mengembangkan ilmu astronomi di Cina. Selain  menjadi penguasa dan pejabat di observarotium, mereka juga diposisikan sebagai kaum bangsawan.Inilah salah satu bukti bahwa umat Islam telah turut berjasa besar dalam membangun peradaban Cina.

Di era kekuasaan Dinasti Song, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Para penguasa dinasti itu meniru para Khalifah di dunia Islam yang mendukung berkembangnya pengetahuan dan teknologi. Selain memiliki astronom terkemuka Ma Yize, Dinasti Song pun punya seorang insinyur yang sangat kondang bernama Su Song.

Pada masa kekuasaan Dinasti Song, peradaban Cina telah mengembangkan senjata dan bubuk mesiu. Selain itu,  di masa  kejayaan Dinasti Song, peradaban Islam pun turun mengembangkan ilmu pengetahuan lainnya seperti teknik sipil, nautika dan metalurgi. Pengaruh peradaban Islam dalam sains di Cina lebih pesat berkembang pada era kekuasaan Dinasti Yuan. 

Peran dan jasa Ma Yize bagi pengembangan astronomi di Cina memang kurang terdengar gaungnya. Meski begitu, peradaban Cina telah berutang pada Ma Yize atas perannya mengembangkan astronomi modern di negeri yang kini berpenduduk lebih dari satu miliar jiwa itu.[ROL]
digitalhuda.com