Recent Articles

Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
0
Lord Headley Al-Farooq merupakan negarawan dan penulis terkemuka Inggris. Ia merupakan lulusan Cambrigde. Setelah lulus, ia lebih banyak aktif menjalani dinas kemiliteran.
 
Karier militernya selesai, Al-Farooq mulai menulis. Buku yang paling terkenal ia terbitkan salah satunya adalah Jurnal Salisbury. Jurnal ini berisi cerita tentang kebangkitan Barat terhadap Islam.
Selesai menulis itu, di luar dugaan Al-Farooq justru menjadi Muslim. Ia pun berganti nama menjadi Syaikh Rahmatullah Al-Farooq.

"Keputusan saya itu dinilai karena saya dipengaruhi umat Islam. Tapi, bukan itu sebabnya, saya justru menjadi Muslim karena bertahun-tahun mempelajari Islam," kata Al-Farooq seperti dikutip arabnews, Jumat (3/5).

Al-Farooq begitu gembira ketika semua teori dan kesimpulan yang didapatnya sesuai dengan ajaran Islam. "Saya bisa pahami bahwa Yesus lebih dekat dengan Islam ketimbang apa yang dipahami gereja sekarang ini," kenang dia.

Sebagai satu contoh saja, Al-Farooq menyebutkan soal syahadat. Dalam Islam, syahadat merupakan satu wujud kesaksian dan komitmen terhadap Allah dan Rasul-Nya. Namun, hal itu justru diubah menjadi satu kunci menuju keselamatan.

"Jadi, yang bisa saya tangkap, dalam pandangan Trinitas, Tuhan itu bisa menjadi seorang yang baik namun juga jahat. Saya merasa bersyukur melalui Yesus bisa mengetahui kebenaran," kata Al-Farooq.
0
Jeremy Ben Royston Boulter
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".(Al-Ikhlas)
 
Oleh: Fitria Andayani
 
Jeremy Ben Royston Boulter percaya bahwa Tuhan semestinya tak membutuhkan perantara agar bisa berkomunikasi dengan manusia. Namun, agama yang dianutnya saat itu, sama sekali tak mendukung pemikiran itu. Tuhan yang dikenalnya seakan tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan hingga dia membutuhkan seorang manusia suci untuk membantunya.

Keraguan mengusiknya. Jeremy pun berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu. Semua buku sejarah bahkan buku-buku teori konspiratif tentang agama dan peradaban manusia dilahapnya. Ia pelajari sejarah Perang Salib, termasuk manuver Paus saat membangun kekuatan dan kekuasaan di Eropa melalui Portugis dan Spanyol.

Ia juga mempelajari pemerintahan teror ala Machiavelli. Demikian pula  pemikiran Erich Von Daniken (Chariots of The Goods) dan Charles Berlitz dan William Moore (The Philadelphia Experiment) tentang teori konspirasi primitif.

Dia pun banyak membaca fiksi ilmiah. Semua bacaan tersebut meyakinkan dia bahwa ada yang salah dengan konsep ketuhanan yang dikenalnya selama ini. "Saat itu aku berpikir, aku membutuhkan perbandingan agama lainnya," kata dia.

Dia pun mulai mempelajari beberapa agama lain, seperti Hindu dan Buddha dan mengikuti ritual yang ada di dalamnya. Tapi lagi-lagi Jeremy menemukan pertanyaan yang membuatnya ragu untuk melangkah lebih jauh. "Ketika bicara tentang bagaimana dunia dan manusia tercipta, aku merasa aneh," tuturnya.

Tak puas, Jeremy kemudian mulai mempelajari astrologi demi mendapatkan esensi Tuhan. Melalui astrologi, ia berusaha memahami mengapa posisi benda langit akan menentukan nasib makhluk hidup. "Aku lalu menjadi peramal amatir," katanya.

Dia pun kemudian sadar bahwa segala isi alam memiliki sistemnya sendiri, tetapi ada satu hukum yang membuatnya berjalan seiring, sejalan, dan harmonis. Sebuah hukum semesta yang dikendalikan sosok yang berkuasa dan berkekuatan mahadahsyat.

Di tengah pencariannya terhadap Tuhan, Jeremy malah ditimpa masalah keuangan. Dia terjerat utang setelah  memutuskan keluar dari pekerjaannya di British Council dan sekolah bahasa di Braga, Portugal. Di masa sulit itu, ia nekat meminjam uang di bank guna membeli rumah dan membuka usaha kecil-kecilan sebagai guru les bahasa Inggris.

Perlahan tapi pasti, usahanya merangkak naik. Sedikit demi sedikit, utangnya berkurang. Namun, Jeremy merasa butuh pemasukan lebih besar. Oleh istrinya, ia disarankan mencari pekerjaan di luar negeri. Merasa galau, Jeremy suatu malam berlutut dan berdoa kepada Tuhan yang tak didefinisikannya.

Ia curahkan segala masalah yang dihadapi. "Aku katakan pada-Nya, saya merasa putus asa. Aku merasa kesulitan menafkahi istri dan anak. Aku meminta pertolongan-Nya. Saat itu entah mengapa, aku merasa nyaman, dan akhirnya terlelap tidur," kenangnya.

Bekerja di Arab Saudi
Seakan doanya terjawab, esok harinya Jeremy menemukan sebuah lowongan pekerjaan di koran pagi. British Council membutuhkan tenaga untuk ditempatkan di luar negeri. Melihat iklan itu, sang istri menyarankan suaminya bekerja di Timur Tengah. Menurut sang istri, suaminya bakal mendapatkan gaji relatif tinggi di negara itu. Awalnya, Jeremy memilih Taiwan. Namun dia gagal. Dari pilihan yang ada, yang tersisa hanya universitas di Arab Saudi. Tak disangka, Jeremy diterima bekerja di negara itu.

Akhirnya, ia pun berangkat. Sebelum itu, beberapa temannya memperingatkan bahwa di Arab Saudi, ia tak akan bebas melakukan apa pun. Bahkan, sejumlah temannya menyarankan Jeremy agar mengurungkan niatnya bekerja di sana. Nyatanya, apa yang ditakutkan orang-orang  itu tidak benar. Ketika menapakkan kaki di negara yang panas itu, Jeremy malah disambut hangat oleh masyarakat setempat.

Arab Saudi kemudian menjadi jalan baginya untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Di sanalah, dia berkenalan dengan Islam yang kemudian menjawab seluruh keraguannya. Allah SWT ternyata punya maksud lain atas takdir yang dijalani Jeremy.

Jawaban dari Surah al-Ikhlas
Jeremy tak langsung mengenal Islam ketika pertama kali menjejak Timur Tengah. Ketertarikannya pada agama Allah ini baru dimulai ketika sadar bahwa dia belum sepenuhnya membaca kitab lain, seperti Alquran dan Talmud (kitab kaum Yahudi). Selama ini, dia tak menyentuh kedua kitab itu karena perbedaan bahasa. Dia pun memutuskan untuk mencari Alquran terjemahan bahasa Inggris di negara yang menjadi pusat peradaban Islam itu.

Jeremy akhirnya meminjam Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris di sebuah perpustakaan. Ketika meminjam, Jeremy diingatkan untuk memperlakukan kitab tersebut secara terhormat. Dia diingatkan untuk tidak meletakkan Alquran di atas lantai atau kursi. Dilarang pula, menduduki atau menginjak Alquran. Larangan lain, jangan membaca Alquran di lokasi tidak suci, seperti kamar mandi. Diingatkan pula untuk tidak membiarkan Alquran terbuka dalam kondisi terbalik.

Petugas perpustakaan itu juga memberi syarat tambahan, yakni selepas membaca Alquran diharapkan segera mengembalikannya ke atas rak. Usai dibaca, sebaiknya halaman terakhir jangan pula dilipat melainkan diberikan pembatas.

Jeremy merasa sedikit terganggu dengan aturan tersebut, lalu bertanya apa alasannya. Petugas perpustakaan menjelaskan bahwa Alquran berisi firman Allah yang Mahakuasa. Mendengar penjelasan itu, Jeremy bertekad memperlakukan Alquran sebaik mungkin.

Jeremy langsung jatuh cinta dengan apa yang dibaca lewat Alquran. Dia merasa sedang membaca intisari Injil dan Taurat. Padahal, bukan kedua kitab itu yang ia baca."Hal yang menarik dalam Alquran, tidak ada sebutan"Nabi Berkata" atau "Kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala". Jadi, aku merasa seperti membaca apa yang disampaikan Tuhan kepadaku," ucapnya.

Ia mengaku sangat terenyuh ketika membaca surah al-Ikhlas.  "Katakanlah, Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." Jeremy sangat terkejut. Inilah jawaban tentang Tuhan yang diinginkannya sejak dulu.

Tak lama kemudian terucaplah kalimat syahadat. Jeremy resmi menjadi Muslim. Tak lama setelah bersyahadat, ia melaksanakan shalat untuk pertama kalinya. Ia menghadap kiblat, lalu mengucap, ''Allahu akbar.''

Dia kemudian mengangkat kedua tangan ke atas lalu melipatnya di dada. Lalu membungkukkan badan, sujud, dan duduk di antara dua kaki. "Aku merasakan kualitas spiritual yang luar biasa saat itu. Alhamdulillah.''[ROL]
0
SEORANG mantan agen FBI hari Sabtu lalu mengatakan ada indikasi bahwa calon kepala CIA pilihan Presiden Barack Obama, John Brennan telah masuk Islam antara 1996 dan 1999 ketika ia menjadi kepala kantor CIA di Riyadh.

Agen CIA John Guandolo, yang pensiun dari FBI pada 2008, mengatakan kepada Radio Trento AS bahwa Brennan masuk Islam di Arab Saudi dan mengunjungi Mekkah dan Madinah selama musim haji bersama dengan para pejabat Saudi, yang hal tersebut menjadi indikasi Brennan telah menjadi mualaf.
Dalam sebuah wawancara video Skype dalam acara radio tersebut, Guandolo mengatakan Brennan telah mengunjungi Mekkah dan Madinah, yang orang kafir tidak diperbolehkan memasukinya terutama selama musim haji.

Guandolo menyimpulkan bahwa “video menegaskan Brennan telah masuk Islam.”
Brennan adalah veteran CIA, di antara posisi sebelumnya dia menjabat sebagai wakil penasehat keamanan nasional untuk keamanan dalam negeri dan kontraterorisme.

Pria berusia 57-tahun itu dinominasikan oleh Presiden Obama pada 7 Januari lalu untuk memimpin CIA. Dia akan menggantikan Jenderal David Petraeus, yang mengundurkan diri di tengah skandal hubungan di luar nikah dengan penulis biografinya.

Mantan agen FBI Guandolo, yang digambarkan sebagai seorang aktivis anti-Islam oleh MSNBC, mengatakan dalam wawancara radio bahwa Brennan tidak cocok untuk kepala CIA.

“Fakta-fakta (yang) … dikonfirmasi oleh pejabat pemerintah AS yang juga berada di Arab Saudi pada saat itu menegaskan bahwa John Brennan memang bertugas di sana … mereka adalah saksi langsung hubungan Brennan dengan individu yang bekerja dengan pemerintah Saudi dan mereka menyaksikan ia masuk Islam,” ujar Guandolo.

Guandolo juga ingat dalam wawancara pidato yang disampaikan oleh Brennan pada tahun 2010 di depan mahasiswa Universitas New York, Brenna mengakui bahwa dia mengunjungi Mekkah dan Madinah selama musim haji.

Berbicara selama beberapa menit dalam bahasa Arab yang baik, Brennan berbicara tentang Islam dalam pidatonya dan kunjungannya ke negara-negara Arab dan Muslim serta residensi dirinya di Timur Tengah selama enam tahun.(fq/islampos/alarabiya)
0
Diego Michiels
Pesepak bola Indonesia, Diego Robbie Michiels, dikabarkan memeluk Islam. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di ruang R.2.09 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2) sekitar pukul 16.00 WIB.

Pengucapan dua kalimat syahadat pemuda 22 tahun itu disaksikan Kapitra Ampera sekaligus kuasa hukumnya.

Kapitra Ampera mengungkapkan, Diego sudah mempelajari Islam sejak berada di Belanda. Sejak itu, ia tertarik dan ingin menjadi Muslim.

"Karena Islam itu tidak mengenal tempat dan tidak ditunda-ditunda, sekitar 10 menit lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat," ujar Kapitra saat menggelar jumpa pers di PN Pusat.

Sejumlah kuasa hukum, yakni Riandi Rusman, Vidi Galenso, dan Elza Syarief menjadi saksi kekasih Nikita Willy itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

---------------------

Masuk Islam, Diego Didukung Orang Tua

Keputusan Diego Michiels memeluk agama Islam mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Diego mengaku mengutarakan keinginannya itu sekitar sebulan lalu.

"Saya sudah berbicara pada orang tua sekitar sebulan lalu, dan mereka mengizinkan," kata Diego di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2).

Sebelumnya Diego menampik jika keputusannya menjadi mualaf untuk memuluskan jalan menikahi kekasihnya, pesinetron Nikita Willy.

"Bukan karena kekasih saya Islam," kata Diego.

Ia mengatakan, ajaran Islam sudah lama ia kenal semenjak dirinya masih berstatus warga negara Belanda.

"Sebelum saya ke Indonesia saya sering bermain bersama teman saya yang Islam, lalu saya mulai mempelajari buku dan akhirnya saya sekarang memutuskan masuk Islam," ucap Diego yang mengenakan peci warna putih.

Diego pun mengaku bahagia bisa mewujudkan keinginannya itu.

"Saya senang sekarang," ujarnya sambil tersenyum bahagia.
(republika.co.id)
0
KAIRO, MESIR - Penggambaran negatif media terhadap umat Islam dan iman mereka telah mendorong seorang profesor Kanada untuk mempelajari Islam dan Alquran, dan membawanya untuk memeluk Islam.

“Ketika saya datang ke Arab Saudi saya menyadari betapa salah media Barat menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme,” kata David Roy Woelke, seorang profesor bahasa Inggris asal Kanada di King Abdulaziz University, kepada Arab News Jumat, 30/3/2012).

“Bahkan, ini adalah agama perdamaian dan persaudaraan universal.”

Woelke mengucapkan Syahadat pada hari Rabu di markasWorld Assembly of Muslim Youth (WAMY). Dia mengubah namanya menjadi Dawud.

Dia mengatakan dia dibimbing ke agama Islam setelah melakukan studi banding tentang Islam dan Kristen.

“Ketika saya datang ke Kerajaan aku melihat bahwa ada perbedaan besar antara Islam yang didistorsi oleh Barat dan Islam yang sebenarnya,” katanya.

Ketika saya datang ke Arab Saudi saya menyadari betapa salah media Barat menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme..

“Jadi saya memutuskan untuk menggali lebih jauh tentang agama ini. Ketika saya mempelajari lebih banyak tentang Islam, Allah Subhanahu Wata’ala membimbing saya untuk memperbaiki hidup. Karena itu, saya memutuskan untuk memeluk Islam..”

Para Muslim sering digambarkan dalam media Barat sebagai orang yang kejam.

Sebuah penelitian di Inggris baru-baru ini menuduh media dan industri film mengabadikan Islamofobia dan prasangka dengan memproyeksikan Muslim sebagai kekerasan, orang-orang berbahaya dan mengancam.

Studi mendalam tentang Islam

Dawud mengatakan bahwa studi yang mendalam tentang Islam telah menuntunnya untuk memeluk Islam.

“Banyak teman-teman Muslim mendorong saya untuk menerima Islam sebagai agama saya,” katanya.

“Seorang salesman Pizza bilang dia ingin melihat saya segera menjadi seorang Muslim.”

Ribuan orang dari berbagai agama dan kebangsaan, terutama laki-laki dan wanita berpendidikan seperti Woelke, datang untuk masuk Islam setiap tahun..

Dawood mengatakan bahwa ia sekarang ingin memperkuat hubungannya dengan Allah Subhanahu Wata’ala setelah masuk Islam.

“Agama adalah lembaga buatan manusia tetapi iman adalah hubungan antara manusia dan Tuhan,” katanya kepada Arab News.

“Saya ingin menyibukkan diri dengan mendekatkan hubungan pribadi saya dengan Allah dan tidak begitu sibuk tentang hubungan orang lain dengan Allah.”

Kabar tentang keislaman Dawud telah membuat banya warga Saudi senang.

“Ribuan orang dari berbagai agama dan kebangsaan, terutama laki-laki dan wanita berpendidikan seperti Woelke, datang untuk masuk Islam setiap tahun,” kata asisten sekretaris jenderal WAMY Dr Muhammad Badahdah.

“Ada permintaan besar untuk terjemahan bahasa Inggris dari Al-Qur’an dan buku-buku Islam di toko buku. Saya yakin Islam akan hati menarik orang-orang jujur seperti Woelke. “

0
ALEPO.SURIAH.– Bumi ribath dan jihad senantiasa menyebarkan rahmat. Karena di sana Allah menurunkan hidayah kepada hamba – hamba-Nya. Di mana mereka membela agama Allah, kehormatan Islam dan muslimin.

Selasa, 29 Januari 2013, para aktivis Suriah memberitakan di jejaring sosial di internet bahwa ada seseorang wartawan Amerika yang masuk Islam setelah berjumpa dengan seorang komandan pejuang Suriah di kota Aleppo.

Para aktivis mengatakan bahwa wartawan tersebut,yang tidak mau disebut namanya, bekerja di surat kabar New York Times yang terkenal, masuk Islam setelah wawancara yang memakan waktu satu jam bersama komandan Liwaut Tauhid, Abdul Qadir Shalih, di Aleppo.

Abdul Qadir Shalih adalah pemuda yang berusia 33 tahun. Ia bekerja di Mare, salah satu desa Aleppo, sebagai pedagang sebelum ia menjadi komandan batalyon Mare yang merebut otoritas dari pemerintah Suriah. Kemudian setelah itu ia menjadi komandan batalyon Liwaut Tauhid.(usamah/imo)(voa-islam.com)
0

Kisah Perempuan Gila Pesta, Masuk Islam dan Pakai Jilbab

Kebahagiaan sejati dan menemukan ketenangan hidup, adalah tujuan sejati manusia. Ia bisa ditemukan dengan beragam cara, misalnya berbuat kebaikan untuk sesama, pergi ke tempat sunyi untuk berkontemplasi, atau mendalami ajaran agama.

Salah satunya dialami Heather Matthews (27), penampilannya berubah drastis, perempuan "gila pesta" dengan penampilan super-minim  kini berhijab atau mengenakan jilbab setelah memeluk agama Islam. Baginya Islam mengenalkannya pada kesejatian cinta dan kebahagiaan, yang tidak ia jumpai di gaya hidup lamanya.

Matthews, ibu dua anak itu, masuk Islam empat minggu lalu, dua bulan setelah pulang dari liburan di Ibiza. Ia kini bahkan mengatakan, foto-foto liburannya di Ibiza, tanpa jilbab, adalah sebuah bukti kekeliruan bagaimana dunia Barat mendefinisikan kecantikan.

"Aku melihat cara gadis-gadis masa kini berperilaku dan berdandan, mati-matian menciptakan imej untuk mereka tunjukkan pada orang lain, terutama para pria," kata dia. "Ini adalah soal menghormati diri sendiri. Jika Anda berpakaian dan berperilaku dengan cara tertentu, baik atau buruk, itu akan mempengaruhi cara orang memperlakukan Anda."

"Islam mengajarkan pada saya tentang kesejatian cinta, bukan hasrat palsu dan nafsu. Saat ini saya bahkan memandang perjodohan adalah hal yang logis."

Studi kelompok lintas agama, Faith Matters menemukan, jumlah warga Inggris yang akhirnya memeluk agama Islam saat ini melewati angka 100.000, dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Laporan tersebut juga menyebut, dua per tiganya adalah perempuan, dengan rata-rata usia 27 tahun. Seperti halnya Matthews.

Jalannya menuju Islam diawali justru ketika ia meyakinkan mantan suaminya, Jerrome, yang baru saja menjadi muslim, bahwa Islam adalah agama yang salah. Ia yang curiga pada Islam, mulai banyak membaca untuk mendukung argumennya.

Meski mereka bercerai tahun lalu, Heather Matthews terus mempelajari Islam dan makin mengerti. Akhirnya, empat minggu lalu ia mengucap kalimat syahadat di depan ulama lokal. "Aku saat ini memiliki saudari-saudari muslim, mereka membelikan aku hijab dan buku-buku Islami untuk merayakannya. Ini luar biasa."

Keputusannya itu menimbulkan reaksi dari teman-teman dan keluarga. Juga kenalannya yang kebetulan berpapasan, ternganga melihat kepalanya berjilbab. "Saat memakai jilbab, aku bisa tersenyum pada orang, tanpa membuat mereka berpikir, itu godaan secara seksual," kata dia seperti dilansir Daily Mail.

Matthews juga sepakat dengan aturan Islam, yang melarang hubungan seks di luar pernikahan. Juga menyimpan kecantikan hanya untuk suami. Ia kini berhenti minum alkohol, hanya mengonsumsi makanan halal, dan berniat puasa penuh di Bulan Ramadhan.

Tak ada paksaan dalam beragama
Meski menemukan ketenangan dalam Islam, Matthews tak akan memaksakan agama barunya pada dua putrinya, Ellah (5) dan Halle (2) hasil pernikahannya dengan Jerrome. Ia memberi kesempatan pada dua putrinya untuk menemukan jalan hidupnya sendiri.

Seperti halnya dirinya. "Orang bisa saja berprasangka, aku dalam tekanan. Tapi tidak. Aku perempuan yang kuat, percaya diri, dan berpikiran bebas," kata dia. "Aku mungkin masuk kategori orang-orang yang dianggap tak mungkin masuk Islam."

Namun, Matthews yakin, ia tak menyesali keputusannya. "Mungkin mengejutkan, namun aku memilih Islam demi cinta dan kebahagiaan. Yang jelas hidupku telah berubah." (umi)[vivanews]

0
Ilustrasi
KUWAIT CITY -- Sebanyak 4.915 pekerja asing Kuwait memeluk Islam sepanjang 2012.

Pencapaian itu merupakan wujud keberhasilan kampanye Komite Dakwah Islam (IPC) bertajuk 'Dakwah adalah Tanggung Jawab Setiap Muslim'.

Ketua IPC, Abdul Aziz Al-Dajeej mengatakan keberhasilan kampanye ini, merupakan efek dari setiap program yang dijalankan. Program itu menyasar seluruh segmen dari masyarakat yang selanjutnya mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam program tersebut.

"Dalam pelaksanaan kampanye itu kami memanfaatkan setiap lini komunikasi," kata dia seperti dikutip arabtimes.com, Sabtu (19/1).

Keberhasilan itu, kata lanjut Abdul, juga didukung dengan kemuliaan hati para donatur yang menyumbangkan bantuan finansial untuk kelancaran kampanye.

Selama kampanye, komite melibatkan lebih dari seratus ulama dari berbagai negara. Kampanye ini juga melibatkan 18 cabang IPC yang tersebar di seluru wilayah Kuwait.(republika.co.id)
0
Alex menjadi mualaf karena terpukau ajaran Islam.

Alquran Membuat Alex Terpukau dengan Islam

MAKKAH -- Alex sedang membaca Alkitab ketika perayaan Thansgiving pada 2010. Sembari membaca, ia merasa ada hal yang perlu dipertanyakan.

Lalu ia coba bandingkan dengan ajaran berbeda. Islam selanjutnya menjadi agama pembanding itu.

"Saya mulai melakukan penelitian tentang agama-agama lain, namun semua tidak sesuai dengan harapan saya kecuali ajaran Islam," kata dia seperti dikutip onislam.net, Senin (14/1).
Selanjutnya, ia mulai meneliti tentang sejarah Alquran. Ia cari melalui internet. Hal yang membuatnya tertarik, ia mengetahui tidak ada yang berubah dari Alquran sejak 14 abad silam.

Sejarah Kabah Bawa Alex Memeluk Islam

Terpukau dengan isi Alquran yang tak pernah berubah sejak 14 abad silam, membuat Alex terus menelusuri sejarah Alquran.

Saat penelusuran itu, ia menemukan hal menarik lainnya, yakin sejarah Kabah.

"Saya dibesarkan dalam tradisi Katolik yang taat. Tapi saya tidak pernah tahu, Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Tahu fakta itu, saya benar-benar marah dengan kebohongan gereja Katolik," kata dia seperti disadur dari Onislam.net.

Sebelum itu, Alex tidak percaya dengan dosa turunan. Ia juga mempertanyakan patung. Baginya, ada yang salah dengan implementasi sepuluh perintah Allah.

Sepekan kemudian, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Lalu ia ucapkan itu secara resmi di dalam masjid.

Alex Temukan Islam Lewat Membaca

Setelah mengetahui sejarah Kabah sebenarnya, Alex memutuskan memeluk Islam.
Usai bersyadahat, hal selanjutnya yang dilakukan Alex adalah meyakinkan keluarganya atas putusannya itu.

"Saya ingin memberitahu mereka. Dengan hanya mengatakan baca dan baca. Itu saja," tegas Alex seperti dinukil dari Onislam.net.

Sejenak melupakan persoalan bersama keluarganya, Alex yang terpukau dengan Alquran itu mulai berpikir melaksanakan ibadah puasa.

Awalnya, Alex merasa takut. Tapi ia tak mau gagal. Lalu ia berdoa meminta Allah membimbingnya untuk diberikan kemudahan.

"Alhamdulillah, saya mendapatkan pelajaran yang berharga selama menjalani ibadah puasa. Ada pelajaran disiplin, kesalehan dan hal lain yang membuatku sulit untuk menjelaskannya," kata Alex menjelaskan.[republika.co.id]
0
Robert Guilhem
Seorang pakar genetika Robert Guilhem mendeklarasikan keislamannya setelah terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang iddah (masa tunggu) wanita Muslimah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam.

Guilhem, pakar yang mendedikasikan usianya dalam penelitian sidik pasangan laki-laki baru-baru ini membuktikan dalam penelitiannya bahwa jejak rekam seorang laki-laki akan hilang setelah tiga bulan.

Guru besar anatomi medis di Pusat Nasional Mesir dan konsultan medis, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa pakar Robert Gelhem, pemimpin yahudi di Albert Einstain College dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan.

Ia menambahkan, pakar Guilhem ini yakin dengan bukti-bukti ilmiah. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan.

Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan. Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya.

Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Afrika Muslim di Amerika. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa setiap wanita di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja.

Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki dua hingga tiga. Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahan yang sah.

Yang mengagetkan sang pakar ini adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri. Sebab ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya.

Setelah penelitian-penelitian yang dilakukan ini akhirnya meyakinkan sang pakar Guilhem ini memeluk Islam. Ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan social. Ia yakin bahwa wanita Muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini.
0
MUSIM DINGIN 1990, putri kedua Laurence Brown lahir. Namun ternyata putrinya mengalami gangguan kesehatan yang serius, terjadi penyempitan di lengkungan pembuluh darah aortanya yang  mengakibatkan peredaran darah bayi itu tidak lancar.
Brown yang  menyaksikan bagaimana tubuh mungil putrinya membiru dari bagian dada sampai ujung kaki menyadari bahwa outrinya harus dirawat di ruang perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir. Sebagai seorang dokter bedah, Brown sangat paham tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter terhadap putrinya. Tidak ada jalan lain selain melakukan pembedahan darurat di bagian dada, meski tindakan medis itu tidak memberikan peluang besar bagi puterinya untuk bertahan hidup.

Ketika konsultan ahli bedah kardio-toraks yang akan menangani putrinya datang, perasaan Brown campur aduk antara sedih dan takut. Ia merasa tidak ada teman kecuali rasa takut, dan tidak ada tempat untuk berbagi kesedihan. Sementara ia menunggu hasil pemeriksaan konsultan, ia pergi ke ruangan tempat berdoa di rumah sakit itu dan duduk bersimpuh.

Ia mengakui, bahwa itulah kali pertama dalam hidupnya ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. Sebagai seorang atheis, saat itulah pertama kalinya ia mengakui Tuhan dengan  setengah hati meski dalam keadaan panik. Ia berdo’a dalam keadaan tidak sepenuhnya meyakini adanya Tuhan.

Dengan sikap skeptis Brown berdo’a. Dalam do’anya ia mengatakan “Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan pasti akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya,”.

Usai berdo’a, sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, Brown kembali ke ruang perawatan intensif putrinya dan sangat kaget ketika mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti, dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.

Setelah putrinya dinyatakan sehat, sekarang giliran Brown yang harus memenuhi janjinya di depan Tuhan, saat ia berdoa memohon keselamatan Hannah. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu. Brown merasa bahwa dalam perjanjian itu, Tuhan telah menunjukkan kebaikannya. Ia merasa harus melakukan hal yang sama, karena Tuhan sudah mengabulkan do’anya.

Bertahun-tahun lamanya Brown berusaha memenuhi “perjanjian”nya dengan Tuhan. Tapi ia merasa gagal menemukan agama yang ingin ia peluk. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi ia tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran.

Dalam perjalanannya mencari agama, ia telah mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Dan yang paling lama, ia mengikuti jamaah gereja Katolik Roma, namun secara resmi ia tidak pernah memeluk agama itu.
Ia mengaku tidak pernah bisa memilih agama Kristen karena alasan sederhana; ia tidak bisa menemukan kesesesuaian ajaran alkitab tentang Yesus dengan ajaran dari berbagai sekte Kristen lainnya. Karena tidak menemukan agama yang sesuai dengan hatinya, Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal Al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad SAW. yang ditulis oleh Martin Lings,  dengan judul “Muhammad, His Life Based on Earliest Sources”.

Dari Al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam mengajarkan kalau Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang tidak pernah ia temukan dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang sempat dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad SAW. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

Brown merasa kalau semua begitu masuk akal baginya. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Maha besar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Al-Quran, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang sempurna. Dan hal ini yang kemudian menjadikan ia sebagai Muslim.

Lebih dari 10 tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, bahwa di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam.

Brown juga mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa pintar seseorang, tapi sebuah pencerahan seperti yang ditegaskan Allah SWT. bahwa mereka yang tidak percaya agama Allah, tetap akan tidak percaya, meski diberi peringatan akan dosa. Jika demikian, Allah juga akan mengabaikan mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran-Nya. Ia juga sangat bersyukur pada Allah SWT. yang telah memberinya petunjuk, dan ia memperkuat petunjuk itu dengan satu formula yang sederhana yakni ‘mengakui adanya tuha, menyembah Allah semata dengan sungguh-sungguhberjanji untuk mencari dan mengikuti kebenaran ajaran-Nya. [ns/islampos/kisahmuallaf]
0
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'' (QS. An-Nisa: 56)

Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Namun tidak demikian bagi Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.

                                                                     
                                                                        ***

Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.

Tejasen yang beragama Buddha kemudian mengatakan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut pada mereka.

Setahun kemudian, Mei 1982, Tejasen menghadiri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya, dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.

Ia kemudian menerima saran para ilmuan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari tiga lapisan global, yakni Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan yang terakhirlah, Sub Cutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.

Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub Cutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka bakar tersebut.

Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan kebenaran Alquran. Ayat 56 surah An-Nisa’ mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar, agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.

Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”

                                                                               ***

Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”

Mereka memberitahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah, yang membuat Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.

Dari para ilmuan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.

Profesor yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai lalu itu kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worlofislam.info menyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu, di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.

Hingga akhirnya, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.

Di akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konferensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Alquran, juga kekagumannya pada makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini kebenaran Islam.

“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran, yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Maha Pencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat syahadat.
0
REPUBLIKA.CO.ID,  Lahir dan dibesarkan di keluarga non-Muslim tak membuat Yohanna Anisa Indriyani kehilangan kesempatan mengenal Islam.
Lingkungan sekolah dan sosialnya ternyata berpengaruh besar dalam membentuk jiwa gadis yang kini berusia 23 tahun ini.
Dari sekolah pula ia mengenal Islam, agama yang tak pernah ada di keluarganya. Dari sekolah pula, keinginannya untuk mengetahui lebih dalam tentang Islam terus tumbuh dari hari ke hari.

Belum lekang dari ingatan Anisa bagaimana ia selalu mengikuti pelajaran agama di sekolah. Namun, bukan pelajaran agama yang saat itu ia anut, melainkan pelajaran agama Islam. Pelajaran agama Islam? Ya, begitulah adanya.
“Saat SD, guru agama membolehkan muid-murid non-Muslim untuk ikut belajar. Waktu itu dibebaskan untuk ikut atau tidak, dan saya pilih tetap di kelas dan ikut belajar. Saya nggak bisa baca Alquran waktu itu, jadi ya saya mendengarkan saja,” tutur Anisa mengenang.

Bagi kita yang lahir dalam kondisi Muslim, boleh jadi pelajaran agama Islam terasa biasa-biasa saja, tak ada sesuatu yang menantang. Tapi, tidak bagi Anisa. Bagi dia yang non-Muslim, mengikuti pelajaran agama Islam saja adalah hal yang menarik sekaligus menantang. Karena itu, ia tak jemu melakukannya. Mulai dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah, Anisa tak pernah absen mengikuti dan menyimak pelajaran agama Islam.

Kala itu, meski setia dengan pelajaran agama Islam, Anisa juga rajin ke gereja setiap Ahad. Ibundanya selalu mendorong dan menyemangatinya untuk taat beribadah Minggu. Anisa tidak menolak, namun ada pertanyaan besar yang memenuhi rongga kepalanya waktu itu. Ia merasa aneh karena ibadahnya tak sama dengan teman-temannya di sekolah. Ia terus bertanya-tanya, namun tak pernah ditanggapi serius oleh keluarganya karena dianggap masih bocah.

Suatu kali, ketika sedang mengikuti pelajaran agama Islam, ia sangat terkesan dengan ucapan sang guru. Sebuah ucapan yang menuntunnya ke arah jalan yang haq. “Ia mengatakan, seorang hamba ketika berdoa langsung saja kepada Tuhan, tanpa ada perantara, tanpa ada di depan kita patung dan sebagainya,” kata perempuan muda yang tinggal di Yogyakarta ini.

Walau begitu, Anisa tak langsung masuk Islam. Usianya masih terlalu kecil meski cahaya Islam telah terang-benderang menyinari lubuk hatinya. Ketika duduk di bangku SMP, ia selalu menyelinap masuk ke kelas pelajaran agama Islam.
Bahkan, ia berani mengaku sebagai Muslim saat guru agama menanyakan kelas agama mana yang akan ia masuki. Di usia remaja ini, pertanyaan-pertanyaan terkait Tuhan dan agama kian merasuki batin dan pikirannya. Barulah setelah duduk di bangku SMA, Anisa berani untuk menentukan sikap dan jalan hidupnya.

“Baru saat SMA benar-benar yakin Islamlah agama yang benar. Waktu itu, saya lebih pada keyakinan bahwa ketika kita berdoa nggak oleh ada perantara,” ujar Anisa yang bersyahadat pada 2005.

Keluarga pun berislam
Di keluarganya, Anisa adalah orang pertama yang masuk Islam. Bahkan, ketika ia sudah menjadi Muslim pun, ibundanya masih setia mengajak ke gereja setiap pekan. Menolak ajakan sang ibu, Anisa mengatakan bahwa Muslim cuma beribadah ke masjid, bukan di gereja, bukan pula di keduanya.

Kala itu, ibunya menganggap, keputusan Anisa untuk pindah agama hanya ikut-ikutan tanpa keyakinan yang nyata. Namun, lambat laun, hidayah yang diperoleh Anisa justru berdampak besar bagi keluarga. Ia tak pernah meminta apalagi mendesak keluarganya untuk memeluk satu-satunya agama yang diridhai Allah tersebut. Namun, tak disangka, ayah dan ketiga adiknya kemudian menyusulnya dan merasakan nikmatnya berislam.

Tentu, Anisa sangat bahagia dengan hidayah yang meliputi keluarganya. Kebahagiaan itu akan bertambah lengkap jika sang ibu juga berikrar menjadi Muslimah. Tapi rupanya, hingga saat ini wanita yang melahirkan Anisa ke dunia itu belum membuka hatinya untuk Islam. 

“Ibu saya belum, ayah justru memeluk Islam setelah melihat saya mantap di agama ini. Adik-adik juga ternyata tertarik. Saya nggak ngajak mereka, tapi mereka mencari sendiri. Ternyata mereka juga tertarik Islam, alhamdulillah.”
0
Surat kabar Amerika “The Washington Times” pada hari Jum’at (04/01/2013) mempublikasikan sebuah artikel oleh seorang analis politik dan strategi Amerika, Fred Gedrich. Ia mantan karyawan dari Departemen Pertahanan AS. Dalam artikelnya, ia memperingatkan bahaya yang mengancam kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah, berjudul: “Syria on track to become Islamic state, Suriah dalam perjalanannya menjadi negara Islam”, dan disertai gambar dengan backgrounds foto Basyar Assad yang ditutupi oleh kata (Khilafah) dalam bahasa Inggris. Dengan ini menunjukkan bahwa bahaya yang dimaksud oleh Gedrich dalam artikelnya tersebut adalah negara Islam (Khilafah).
  Hal penting dalam kajian sang ahli strategi tersebut adalah klaim bahwa konflik yang berlangsung di Suriah telah menjadi konflik sektarian dan aliran keagamaan. Ia berusaha melontarkan bukti-bukti atas konsepnya untuk meyakinkan pembaca terhadap pandangannya, yang dapat disamakan dengan pandangan resmi pemerintah AS, dan instrumen-instrumen internasionalnya.
  Dimana ia menilai bahwa pasukan revolusi yang melawan Assad didukung negara-negara Sunni—berdasarkan penilaiannya—seperti Turki, Qatar dan Arab Saudi. Sementara pada saat yang sama, pasukan militer revolusi meliputi kelompok-kelompok di bawah kerangka al-Kaidah, tentara pembebasan Suriah dan pasukan Sunni lainnya, katanya. Dan ia menilai bahwa keberpihakan Iran terhadap rezim Suriah benar-benar berangkat dari sikap sektarian murni.
  Hal penting yang menjadi goal setting (tujuan akhir) artikel tersebut adalah peringatan keras dari arah revolusi Suriah yang menuju berdirinya negara Khilafah di Suriah. Ia mengatakan bahwa terjadinya hal ini akan menyebabkan lemahnya keamanan regional dan kepentingan AS di kawasan Timur Tengah. Sehingga pemerintah AS harus bekerja serius untuk menciptakan rezim yang menerima kebebasan, kesetaraan dan pluralisme, guna mencegah berdirinya pemerintahan Islam di atas reruntuhan rezim Basyar Assad.
 
*** *** ***
Tidak diragukan lagi bahwa peringatan Gedrich dan klaimnya itu pada kenyataannya adalah mencerminkan sikap pemerintahan imperialis AS dan pandangannya terhadap apa yang terjadi di Suriah. Sementara merekayasa kebohongan dan menyebarakannya orientasinya adalah merealisasikan tujuan Amerika dalam memasarkan opini umum Amerika dengan berbagai arahan yang disulkan oleh orang-orang berpengaruh dan pemimpin politik.
 
Amerika sangat sadar bahwa hakikat dari revolusi Syam yang diberkati ini adalah revolusi umat Islam, yakni ia merupakan garda depan revolusi umat Islam terhadap keberadaan rezim-rezim thaghut dan dominasi negara-negara imperialis Barat. Dimana tujuan dari revolusi umat Islam ini adalah menggulingkan semua rezim, penyanggah dan komponennya, sebagai sistem kufur pengkhianat, yang mencerminkan wajah buruk kerena ketergantungan pemikiran dan politik kepada Barat, khususnya Amerika, dan kemudian menggantinya dengan negara Islam yang agung di atas reruntuhannya.

 
Oleh karena itu, sejak awal Amerika telah memeranginya. Namun, karena kegagalan konspirasi yang dilakukannya dalam menyesatkan revolusi dan memalingkannya, maka jadilah kekuatan imperialis mencari metode lain, yang dengannya berusaha memprovokasi untuk melawan revolusi, serta membuat sejumlah dalih untuk memeranginya, dan memperkuat posisi pengkhianat baru yang bekerja pada Amerika, agar mereka menjadi wajah lain bagi rezim Baath yang telah berlumuran dosa.

 
Klaim sektarianisme tersebut masuk dalam metode keji dan kotor tersebut. Itulah yang selalu digemakan oleh para pejabat Barat dan antek-anteknya dari para mediator internasional. Padahal mereka tahu bahwa peran Qatar dan Arab Saudi yang sebenarnya dalam pembelian keamanan adalah demi membersihkan revolusi dari Islam, dan bukan sebaliknya. Begitu juga dengan peran Turki yang berjalan seiring dengan Amerika dalam upaya mengisi oposisi politik dari luar negeri dan mendukungnya agar ia menjadi wakil kaum sekuler yang sah bagi rakyat Suriah, meskipun sebagian tokohnya memakai pakaian keagamaan, sehingga keberadaan mereka layaknya seperti serigala berbulu domba.

 
Adapun dukungan Iran, maka itu adalah peran yang ditugaskan Amerika kepada Iran untuk mengokohkan rezim Assad, dan membantunya dalam bentuk finansial dan militer. Amerika benar-benar mngeksploitasi percikan api sektarian untuk memuluskan kepentingannya dengan mendukung anteknya di Damaskus. Hal ini sama seperti yang ditugaskan Amerika kepada negara-negara lain, semisal Mesir, Turki dan negara-negara di kawasan Timur Tengah lainnya, yaitu peran politik penuh dosa, yang semuanya digunakan untuk upaya mengaborsi revolusi, dan membersihkannya dari gerakan Islam, yang nafasnya adalah Lâ Ilâha Illallâh (tiada Tuhan selain Allah), dan tiada kekuasaan kecuali kekuasaan Allah.

 
Sementara menancapkan pemikiran sektarian adalah asas dari asas-asas imperialisme Barat. Bagaimana tidak, mereka adalah pemilik teori politik pecah belah atau politik adu domba (devide et impera). Kaum Muslim adalah satu umat, karena itu saat ini mereka tengah menanti yang menyatukan mereka di bawah satu bendera Khalifa, yang di belakangnya umat Islam berperang, dan kepadanya mereka berlindung.

 
Siapapun yang bertaruh pada arus sektarian adalah orang bodoh, sebab dengan lenyapnya agenda kufur dari kawasan Timur Tengah, maka potongan daging itu akan kembali pada generasi Islam, dan konsep-konsep Islam yang benar akan kembali tersebar di tengah seluruh generasi umat Islam, agar ia menjadi putih cerah yang menunjukkan pada jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Saw, dan Khulafa’ur Rasyidin sesudah beliau. Sehingga keadilan dan kebenaran akan mewarnai semua warganya dari semua ras dan keturunan. Bahkan sejarah telah menjadi saksi kebesaran Islam dalam melebur semua manusia di dalam wadah keadilan dan kebenaran. Dan akan mengadili siapa saja yang telah melakukan kejahatan terhadap kaum Muslim, tanpa memandang ras, suku dan kebangsaannya.

 
Adapaun keamanan regional yang ditakutkan kegoncangannya Gedrich, adalah keamanan entitas Yahudi dan sekutunya dari para penguasa pengkhianat di kawasan Timur tengah. Mereka akan lenyap satu per satu, dengan pertolongan dan kekuasaan Allah. Dan tidak akan ada lagi bagi Amerika orang yang akan menolongnya untuk mengimplementasikan kepentingannya. Namun, Amerika dan semua negara imperialis akan diusir dari negeri-negeri kami, hingga mereka tidak pernah berpikir untuk kembali lagi.

 
Semua ini akan menjadi hasil yang alami dari keberhasilan revolusi Islam Syam yang telah mengakar di lubuk hati umat. Dan hendaklah para pahlawan Syam yang gagah berani meningkatkan aktivitasnya, dimana mereka berada di garda depan revolusi umat, serta hendaklah mereka menempuh jalan Rasulullah Saw dalam mengembalikan kekuasaan umat dan negaranya, yaitu Khilafah Rasyidah yang tegak di atas metode Rasulullah, Muhammad Saw. Itulah yang harus kita lakukan dalam merespon kekuatan kaum kafir imperialis [Abu Basil].

 
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 11/01/2013.[www.globalmuslim.web.id]
0
DR.FIDELMA O’Leary mendapatkan penghargaan Woman of Spirit tahun 2012. Ia adalah seorang Professor Biologi di Universitas St. Edward di Austin, Texas, AS.

Wanita asli Texas yang berprofesi sebagai Professor Neurosains di Universitas Texas ini, telah menemukan kedamaian dalam islam. Dr Fidelma, yang juga sebagai seorang Dokter Neurologi di sebuat rumah sakit di AS, terpukau ketika melakukan kajian terhadap syaraf-syaraf di otak manusia. Satu hal yang membuat dia terpukau adalah ketika mengetahui bahwa terdapat beberapa urat syaraf manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah agar bisa berfungsi secara normal.
Setelah mengadakan penelitian dengan seksama dan memakan waktu yang lama, Dr Fidelma akhirnya mendapati kenyataan bahwa urat-urat syaraf di otak itu tidak dimasuki darah kecuali bila seseorang sedang shalat, yakni ketika posisi sujud! Ternyata urat syaraf itu memerlukan darah hanya beberapa saat saja, yakni ketika seseorang shalat.

Setelah penelitian itu, Dr Fidelma mencari tahu tentang Islam, lewat buku-buku keislaman dan diskusi dengan rekan-rekannya yang Muslim. Dan akhirnya, dengan kesadaran penuh, Dr Fidelma mengikrarkan keislamannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Allah SWT berkenan memberinya hidayah atau petunjuk pada iman. Keyakinannya pada agama Islam yang baru dianutnya itu demikian besar. Sekarang Dr Fidelma membuka klinik,”Pengobatan dengan Al-Qur’an”. Dia terus mengkaji pengobatan Islami dan memberikan pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan apa saja yang dianjurkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, misalnya dengan berpuasa, madu, habbatussauda (jinten hitam), minyak zaitun, dan sebagainya.
Allah SWT berfirman:

“Dan apabila kamu menyeru untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya (shalat itu) sebagai ejek-ejekan dan permainan. Yang demikian itu ialah karena mereka suatu kaum yang tidak berakal.” (Q.S Al Maidah: 58).
0
SEBUAH sensus baru Selasa kemarin (11/12/2012) mendapatkan bahwa Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Inggris dan Wales.

“Agama sebenarnya sulit untuk didefinisikan dan sulit untuk diukur,” kata Nick Spencer, direktur riset di lembaga think-tank teologi Theos, kepada The Daily Mail.

“Sensus mengukur identifikasi agama, bukan keyakinan atau praktek menjalankan agama. Ini tentang apa yang orang menyebut diri mereka, dan kelompok mana yang mereka ingin identifikasikan dengan diri mereka sendiri.”
Di antara warga Inggris, ada 33,2 juta yang mengaku Kristen, turun dari 37,3 juta pada tahun 2001. Angka tersebut hanya terdiri dari 59 persen dari populasi.
Sensus menempatkan total penduduk Inggris dan Wales di sebanyak 56,1 juta, meningkat tujuh persen dari tahun 2001, dan 55 persen dari kenaikan tersebut karena migrasi.
Dan sensus menemukan bahwa proporsi Muslim juga naik dari 3,0 persen menjadi 4,8 persen, sehingga menjadi agama yang paling cepat berkembang di Inggris.
Sensus tahun 2001 menyebutkan jumlah Muslim Inggris hampir mencapai 2,5 juta jiwa.
Statistik hasil sensus ini muncul pada saat Uskup Agung Canterbury menyatakan bahwa jemaat Katedral Inggris telah tumbuh secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir, membantah bahwa Gereja Inggris telah memudar.
Agama yang paling populer ketiga di Inggris adalah Hindu, yang membentuk 1,5 persen dari total populasi, sedangkan 0,8 persen dan 0,5 persen adalah Yahudi dan Sikh.
Sensus juga menemukan bahwa jumlah ateis semakin meningkat di Inggris.
Ditemukan bahwa 25,1 persen orang mengidentifikasi diri mereka sebagai tidak memiliki kepercayan naik dari 14,8 persen dalam satu dekade sebelumnya.
Sebuah survei tahun 2005 yang diterbitkan dalam Encyclopedia Britannica menempatkan orang yang tidak memiliki keyakinan sekitar 11,9 persen dari total populasi dunia.(fq/islampos/oi)
0
 
Bermula dari Islamnya Sang Kakak

Melinda Baily baru tiga tahun memeluk Islam. Lahir dari ayah berdarah Polandia dan ibu berdarah Italia, kehidupan keluarganya benar-benar didedikasikan untuk Kristen.

Perkenalannya dengan Islam, tak lepas dari sang kakak. “Kakakku memiliki hubungan serius dengan pria Muslim,” ujar dia seperti dikutip onislam.net.

Sang kakak terlebih dulu mempelajari Islam. Awalnya, dalam keluarga Melinda tak satu pun yang mengenal Islam. Kehadiran calon kakak ipar disambut baik oleh keluarga. Kakaknya mulai ‘meraba-raba’ untuk belajar tentang cara pandang calon suaminya itu.

Keinginan sang kakak untuk belajar Islam tak terbendung lagi. “Dia ingin membuat keputusan tentang agama apa yang ingin mereka ajarkan kepada anaknya. Dia tak ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan agama yang ia sendiri tidak yakin,” kata wanita yang tinggal di Carolina Selatan ini.

Sang kakak akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam setelah belajar selama dua tahun. Kakaknya mengatakan pada anggota keluarga bahwa ia tak lagi bisa menerima ajaran Trinitas yang selama ini dianut. Berislamnya kakak Melinda, pada mulanya dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.

Bagaimana tidak, begitu banyak kesalahpahaman yang bisa terjadi karena masalah agama. Banyak perubahan besar yang terjadi pada diri sang kakak. Mulai dari cara pandang, cara berpakaian, cara berpikir dan semuanya. “Sungguh, saat itu aku benar-benar tidak tertarik pada Islam. Sangat menakutkan untuk melihat kakak banyak mengalami perubahan,” kenang Melinda.

Mencari Agama Sendiri

Masuknya sang kakak menjadi seorang Muslim, cukup menyebabkan keluarganya tak lagi pergi ke gereja. Namun, mereka mengaku masih memercayai ajaran Trinitas.

Sejak saat itu, banyak hal yang bertentangan dalam keluarga karena adanya perbedaan agama. Orang tuanya mengatakan satu hal, kakaknya mengatakan hal yang lain. Bosan dengan perdebatan, Melinda memutuskan untuk mencari sendiri keyakinannya saat hendak masuk ke sekolah tinggi.

“Jadi, aku benar-benar ingin belajar sendiri dan memutuskan apa yang kuyakini. Bukan hanya menerima agama yang kubawa sejak lahir,” ujar dia. Ia sangat yakin, apa pun hasil pencariannya akan membuatnya semakin mantap dalam beragama. Entah itu makin mantap menjadi seorang Kristen, atau bahkan justru masuk Islam.

Melinda sudah bertekad untuk ‘mencari kebenaran agama’, namun ternyata kehidupannya sebagai remaja jauh lebih menggairahkan dibandingkan keinginannya untuk belajar. “Ternyata aku tidak pernah benar-benar memiliki dorongan untuk melakukannya, karena aku sibuk melakukan banyak hal sebagai remaja,” tuturnya.

Tak berselang lama, sang kakak yang sudah berkeluarga, memutuskan untuk pisah rumah. Setiap kali datang berkunjung, Melinda selalu merasa kakaknya datang dengan karakter yang lebih religius dari sebelumnya. “Sungguh sangat menakutkan melihat perubahan itu. Lalu kakak mengenalkan aku dengan seorang pria Muslim,” ungkap Melinda.

Ia kemudian menjalin hubungan dengan pria itu. Namun, sebelum hubungan itu berlanjut serius, keduanya memutuskan untuk tidak melihat satu sama lain. Melinda ingin melakukan ‘meditasi’ untuk melakukan pencarian agama sebelum memutuskan untuk memiliki hubungan yang lebih serius dengan seseorang.

Melinda mulai melakukan pencarian. Baginya, satu rumah tangga harus memiliki agama yang sama. Itu adalah masalah prinsip yang tak bisa ditawar lagi. Pencarian agama ini yang menjadi langkah penting untuk menentukan apakah hubungan dengan pria itu lanjut atau putus. “Pernikahan lintas agama adalah suatu hal yang sulit. Aku benar-benar ingin meneliti agama sebelum akau memutuskan agama yang akan aku anut,” kata dia.

Hal pertama yang ia pelajari tentang Islam, yaitu hak tentang perempuan. Banyak rumor yang ia dengar tentang hak perempuan. Ia pikir perempuan dipaksa harus menutup seluruh badannya, harus selalu di belakang laki-laki. Opini itu yang selama ini ada di benaknya, karena seperti itulah yang digembar-gemborkan di media.

Alangkah terkejutnya Melinda ketika mengatahui bahwa ternyata banyak hak yang diberikan kepada perempuan. Misalnya, seorang wanita memiliki hak untuk memiliki kekayaan dan bisnis sendiri. Ia juga baru tahu bahwa perempuan bertanggungjawab terhadap uang sendiri dan boleh melakukan sesuatu tanpa pengaruh laki-laki. “Aku juga terkejut bahwa perempuan ternyata memiliki hak waris,” ujarnya.

Ragu Soal Trinitas

Berbicara soal hak perempuan, Melinda mulai setuju dengan beberapa hal yang ada dalam Islam. Poin awal ini yang semakin membuatnya tertarik untuk mempelajari Islam.

Melinda lalu mencari tahu apa yang sebenarnya disembah oleh umat Islam. Awalnya, ia berpikir Muslim menyembah Muhammad, tidak percaya pada Yesus dan tidak percaya pada Tuhan. “Ketika aku meneliti, ternyata mereka percaya pada Yesus (Isa), mereka percaya pada Tuhan, tapi mereka tidak percaya pada Trinitas.”

Saat mempelajari Islam, ia melihat banyak hal yang mirip antara Islam dan Kristen. Beberapa kisah dalam Alquran semakin memudahkannya dalam belajar. Melinda juga banyak mengetahui cerita tentang Abraham (Ibrahim), Musa dan Nuh dan begitu banyak hal yang persis sama, kecuali soal Trinitas.

Melinda lalu mempelajari posisi Muhammad dalam Islam. Ia lalu tahu bahwa Muslim tidak menyembah Nabi Muhammad. “Muhammad adalah seorang nabi yang memerintahkan untuk menyembah satu Tuhan,” kata dia.

Satu hal umum yang merupakan perdebatan besar antara Muslim dan Kristen adalah sudut pandang Islam bahwa menyembah Yesus sebagai Tuhan dianggap menyekutukan Allah. Ia kemudian mempelajari pandangan Islam tentang Yesus. "Secara pribadi, pada saat itu aku menyadari bahwa Trinitas benar-benar tidak masuk akal bagiku,” kata dia.

Namun, hal itu belum memuaskan dirinya. Banyak poin yang ia pelajari dalam Kristen, seperti Yesus adalah anak Tuhan, dan bahwa dia adalah Tuhan. Ia membandingkan dengan apa yang dikatakan umat Muslim bahwa Yesus adalah nabi dan tak pernah minta untuk disembah.

Saat konsep Trinitas sudah ia yakini kesalahannya, Melinda tak serta merta menyatakan masuk Islam. Satu hal yang menghalanginya masuk Islam adalah anggapan bahwa dirinya takkan diterima secara sosial jika menjadi Muslim. “Itu karena kesombongan kita sendiri dan prasangka. Kadang kita tidak bisa menerima seseorang dari ras yang berbeda, dari warna yang berbeda atau dari negara dan budaya yang berbeda,” ujarnya.

Namun, Melinda sadar dan segera memantapkan hatinya untuk memeluk Islam dan menikah. Ia teringat saat pertama kali akan menikah dan berpindah agama. "Sulit sekali menjelaskan pada keluarga besar yang sebagaian besar Katholik dan sebagian Kristen,” kata dia.

Ia juga mengatakan sangat sulit berada dalam suatu negara dengan kondisi minoritas, namun begitu banyak prasangka. "Alhamdulillah, kini saya Muslim. Sudah menikah dan mulai menjalankan ajaran agama Islam," tegas Melinda.
(Republika)

0
Jerry D Gray, penulis sejumlah buku laris, ternyata seorang muallaf yang sangat mencintai Indonesia dengan mengurus naturalisasinya dari warga AS ke WNI, menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Jakarta.

“Bagi saya Indonesia itu ibarat surga. Saya sudah melancong ke banyak negara dan di sini saya mendapatkan kedamaian bergaul dan berinteraksi
sosial dengan komunitas Muslim terbesar di dunia,” ujar Jerry.

Tidak banyak orang yang menyangka Jerry D. Gray, warga AS yang pernah menjadi prajurit angkatan udara negara adidaya itu, ternyata seorang muallaf yang tekun beribadah.

Jerry mengatakan, menjalankan ajaran Islam secara kaffah sebagaimana diajarkan dalam kitab suci Al`Quran. Semua itu baru terlaksana setelah berproses dalam waktu cukup lama.

Bagi penulis sejumlah buku di antaranya “Deadly Mist”, “Demokrasi Barbar ala AS` dan “Dosa-dosa Media Amerika” itu, ketertarikan terhadap Islam dimulai justru dari tanah Arab tempat ajaran Islam itu sendiri pertama kali diturunkan kepada Rasul Allah SWT.

Sebagai AU yang ditugaskan di Arab Saudi, ia melihat betapa khusyuk dan ikhlasnya orang menjalankan shalat hingga mau meninggalkan segala aktivitas mereka termasuk berkaitan dengan uang sekalipun.

“Ketika mengalun suara adzan, dipinggir jalan orang pada shalat, karyawan toko dan mall semua shalat dan barang dibiarkan begitu saja namun tidak ada yang hilang. Semua melaksanakan shalat dengan khusuk,” ujar Jerry, yang pernah selama 2,5 tahun menjadi wartawan di sebuah TV swasta di Indonesia itu.

Ia menjadi bingung sekaligus takjub. Setelahnya kesadaran untuk mengenal ajaran Islam langsung tak tertahankan. Ia melihat cahaya iman justru setelah melihat orang-orang melaksanakan Shalat.

Jerry mengaku ketika pertama kali memegang kitab suci Al Qur`an badannya langsung merinding, ketika akan membaca hatinya bergetar dan sejurus kemudian suara tangis mengiringinya membaca terpatah-patah ayat Al Qur`an.

Setelah hatinya merasa mantap ia kemudian memilih menjadi mualaf di Arab Saudi. Keislamannya belum serta merta jadi mantap. Ia pertama kali hanya melaksanakan shalat dua kali dalam seminggu.

“Ketika tertimpa musibah saya bawa shalat, ternyata saya dapatkan ketenangan dan musibah hilang. Setelah itu saya makin rajin shalat,” ujar Jerry yang kini berisitrikan wanita asal Tasikmalaya Jabar itu.

Kini dalam kesehariannya, Jerry seringkali dimintai pandangan-pandangannya tentang Islam, demokrasi, dan terorisme. “Islam itu agama rahmatan lil alamin dan orang Islam bukanlah teroris,” ujar ayah satu anak itu.

Bagi mantan wartawan CNBC itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia merupakan surga yang ada di dunia. Ia pun kini tengah mengurus naturalisasi dengan menjadi WNI sebagai ranah perjuangannya terhadap Islam

saya tidak pernah bertemu Muslim, mendengar suara adzan atau pun melihat masjid. Meskipun demikian saya berkeyakinan bahwa Yesus bukan anak Tuhan. Pada usia 12 tahun saya sudah berpikir tentang Tuhan. Umur 14, sudah mulai malas ke gereja.

Saya malas pergi ke sana karena tempat itu tidak dapat menghilangkan dahaga saya tentang Tuhan. Saya bosan setiap kali datang selalu disuguhi dengan banyak ucapan haleluya. Padahal yang saya butuhkan adalah pencerahan siapa itu Tuhan dan kejelasan misi hidup saya di dunia ini untuk apa.

Saya percaya adanya Tuhan dan mau masuk surganya Tuhan. Tapi dari agama ini saya mencium something wrong karena saya harus meyakini Yesus sebagai anak Tuhan. Untung saja nenek di rumah sering banyak cerita tentang Tuhan, sehingga saya lebih suka mendengarkan nenek. Selama saya belajar agama kepadanya, ia tidak pernah bilang bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Namun sebaliknya, di gereja saya selalu disalahkan, karena tidak mau mengakui Yesus sebagai anak Tuhan.

Kalau Yesus menjadi anak Tuhan, mengapa Musa, Ibrahim dan Adam tidak menjadi anak Tuhan? Padahal, kalau mau, justru Adamlah yang paling berhak menjadi anak Tuhan karena dia tidak punya ibu dan bapak. Keyakinan saya bertambah setelah membaca kisah Musa yang memaksa ingin melihat Tuhan. Musa akhirnya dibolehkan melihat sedikit cahaya Tuhan dari gunung granit yang sangat gelap. Baru saja merefleksikan sedikit cahaya Tuhan, langsung gunung itu goyang-goyang dan sangat menyilaukan, Musa pun pingsan. Berdasarkan kisah itu, kalau benar Yesus anak Tuhan, pasti orang yang melihat Yesus bakal mati atau pingsan. Ini kan tidak, berarti Yesus bukanlah anak Tuhan.

Saya selalu berdoa agar saya diberi petunjuk yang benar tentang Tuhan. Usai mengikuti wajib militer di angkatan udara, saya ditawari menjadi maintenance pesawat pribadi Raja Fadh di Jeddah, Arab Saudi. Saya tolak karena saya takut dibunuh orang Islam. Lebih baik saya menganggur.

Saya tinggal di dalam mobil di ujung satu dermaga di Hawaii. Setiap hari mancing. Bila dapat ikan, saya makan, bila tidak saya kelaparan. Paling hanya minum dari kran air putih yang ada di situ. Enam bulan begitu terus. Pernah tiga hari berturut-turut saya tidak makan sama sekali, hanya minum saja karena tidak dapat ikan. Tapi saya tidak mau bunuh diri. Saya menangis, memohon, agar Tuhan memberikan jalan keluar.

Namun tawaran tersebut datang lagi. Saya mengira Tuhan telah marah kepada saya. Karena saya tidak mendapatkan pekerjaan lain, malah disuruh ke Arab. Akhirnya teman memberikan saran kepada saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun berangkat ke sana.

Di Jeddah saya melihat kejadian-kejadian yang sangat luar biasa, yang sangat berbeda dengan bayangan saya sebelumnya. Ternyata orang Islam begitu taat kepada Tuhannya dan baik kepada saya. Ketika mendengar adzan mereka langsung meninggalkan aktivitasnya untuk segera shalat.

Begitu juga ketika saya ke toko emas. Saya dengar adzan. Pintu toko emas terbuka. Padahal di toko tersebut tidak ada orang. Siapa pun yang berniat mencuri emas, akan sangat mudah mengambilnya. Tapi kok ini dibiarkan, Saya berdiri saja di depan toko itu menunggu penjual emas muncul. Setelah adzan, jalanan mendadak sepi dari lalu lalang manusia. Penjaga keamanan tidak ada. Paling sekali-kali saya melihat polisi menegur beberapa orang yang sedang lewat untuk segera shalat.

Tak lama kemudian, pemilik toko itu datang dan berkata “Mengapa tidak masuk?” Saya jawab, “Tidak mau”. “Kenapa tidak mau?” tanyanya. “Saya takut disangka maling, nanti tangan saya dipotong,” jawab saya karena setahu saya orang yang mencuri tangannya akan dipotong. Biasanya orang bule yang datang ke Jeddah diundang untuk menyaksikan pemotongan tangan bagi pencuri setiap Jum’at siang.

“Masuk saja, karena semua ini adalah Allah yang punya, bukan punya saya,” kata pemilik toko itu. “Apa pun, kamu perlu, ambil! Mungkin kamu lebih membutuhkan itu daripada saya?” lanjutnya. Ia mengatakan bahwa semua itu milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Saya terharu dan mau menangis mendengar ucapan yang tulus itu. Saya sangat ingin punya iman seperti itu. Dengar adzan dia shalat. Orang mau mengambil atau tidak mengambil hartanya, dia tidak ada masalah, yang penting ketika Allah menyuruh shalat dia berangkat shalat dan semua hartanya itu dia pasrahkan kepada Allah.

Peristiwa itu membuat saya jadi tertarik untuk mengetahui agama Islam lebih lanjut. Saya jadi banyak diskusi tentang Islam. Termasuk dengan Ahmad, salah seorang anggota Angkatan Udara Arab Saudi. Saya diberinya Alquran dengan terjemah bahasa Inggris.

Ia tunjukkan ayat yang menyatakan Isa anak Maryam adalah hamba dan utusan Allah, bukan anak Allah. Ahmad menyebut Isa itu adalah nama lain dari Yesus, sedangkan Maryam sebutan lain dari Bunda Maria. Kurang lebih tiga ayat saya baca. Saya tidak kuat lagi meneruskan membacanya, karena saya mau menangis. Saya tidak mau menangis di depan orang. Saya sangat yakin, inilah jawaban dari Tuhan. Rupanya saya disuruh ke Jeddah itu bukan karena Tuhan marah, tapi karena Tuhan mengabulkan doa saya.

Kemudian teman Ahmad yang bernama Rosyid, datang ke rumah. Dia memberi tahu bahwa di salah satu masjid di Jeddah malam itu dimulai lagi sekolah Islam yang menggunakan bahasa Inggris. “Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang Islam datanglah ke masjid tersebut, nanti saya antar,” kata Rosyid. Di sekolah itu terjadilah diskusi. Hati saya berdecak kagum. Luar biasa, pintar sekali guru ini. Semua yang dia katakan masuk akal. Argumennya begitu spiritually and lightening.

Dia mengatakan bahwa Tuhan itu satu bukan tiga, semua adalah ciptaan Tuhan dan bergantung kepada Tuhan. Tuhan tidak beranak tidak pula punya orangtua. Tidak ada yang dapat menyerupai Tuhan. Serta manusia hidup di dunia ini untuk mengabdi kepada Tuhan saja. Belum satu jam pun diskusi, sebenarnya hati saya sudah menerima Islam. Hanya saja saya belum mau menyatakan pada guru.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Terus merenungkan ucapan guru. Akhirnya di hari ketiga saya putuskan masuk Islam. Saya ucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu guru berdiri dan cium pipi kanan kiri saya. Guru mengajak semua orang yang ada di situ antri untuk mencium saya. Saya kaget mendapat perlakuan itu. Kemudian saya mengerti bahwa itu adalah ungkapan senang luar biasa dari sesama Muslim.

D Fitriyani/[voa-islam.com]
0
Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika. 

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.
Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:

Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu.
Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.
Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.
“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.
Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”
“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.
Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS:  Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.
Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”
“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawan pertanyaan kamu.”

Kutipan : Republika
Sumber : Islam.thetruecall.com
digitalhuda.com