5 Tanda Hati Keras Membatu
HATI adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktivitas yang dilakukan sering berpuncak dari lurus atau bengkoknya hati. Abu Hurairah r.a. berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya.. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya”.
Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:
1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan. Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud, “Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan denganmalas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkandengan rasa enggan.” (Surah At-Taubah, ayat 54)
2. Tidak merasa tersentuh dengan ayat al-Quran. Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyuk atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedangkan Allah S.W.T member peringatan yang artinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku.” (Surah Al-Qaf, ayat 45)
3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat. Segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-mata. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesame manusia hanya untuk urusan dunia saja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.
4. Kurang mengagungkan Allah. Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah dilecehkan orang. Tidak mengamalkan yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.
5.Tidak belajar dari pengalaman hidup. Tidak terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa yang dapat member pengajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan seumpamanya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai perkara biasa, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. “Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiaptahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (Surah At-Taubah, ayat 126)

