Recent Articles

Mampukah Pendidikan Agama Redam Tawuran?


Petugas kepolisian memperlihatkan sejumlah barang bukti senjata tajam yang disita dari pelajar yang melakukan tawuran.
Justru jika diberikan teori lagi, siswa akan kembali jenuh dengan tambahan pelajaran yang relatif lebih membosankan.

Tawuran pelajar ternyata tak hanya melahirkan kontak fisik semata, tapi buntut dari tawuran antarsekolah di tahun lalu itu telah membuat 16 nyawa para pelajar di negeri ini terbuang sia-sia.

Muncul tudingan bahwa fenomena tawuran pelajar menjadi bukti dari kegagalan sistem pendidikan.

Tapi, Menteri Agama Suryadharma Ali merespons cepat. Ia mengusulkan agar adanya penambahan durasi waktu pelajaran agama di sekolah yang kini hanya dua jam dalam sepekan.

Suryadharma berpendapat, pelajaran agama dibutuhkan untuk memberikan pendidikan tata nilai dan moral kepada para siswa. Diharapkannya, perilaku negatif dari para siswa, seperti tawuran, perusakan, dan penggunaan obat-obat terlarang bisa dikurangi.

Hal senada juga disampaikan para anggota DPR di Komisi X yang membidangi masalah agama. Mereka juga mendukung ide penambahan pendidikan agama di sekolah untuk mengurangi tawuran.

Usulan ini ternyata mendapat restu positif dari sejumlah aktivis kampus. Haris Fadhillah, ketua Lembaga Dakwah Kampus Sahabat Muslim Universitas Negeri Jakarta (LDK Salim UNJ), menilai penambahan porsi pada pendidikan agama adalah solusi tepat.

Namun, ia menegaskan, jam pelajaran agama yang ditambah itu sebaiknya menekankan pada pembentukan karakter personal serta membuat semacam sistem mentoring agama di sekolah.

''Di sini diperlukan sistem pelajaran agama dengan bimbingan dari kakak-kakak kelas maupun alumni yang akan menyibukkan siswa dengan hal-hal positif, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah,'' ujar Haris.

Usulan penambahan jam pelajaran agama bukanlah upaya pemecahan yang bertujuan untuk menggampangkan masalah.

Haris juga yakin adanya hubungan antara penambahan jam pelajaran agama dan upaya memperbaiki akhlak pelajar.

Menurutnya, akhlak yang buruk dari pelajar itu muncul karena tidak adanya evaluasi terhadap pembelajaran ilmu agama yang diberikan. “Karenanya, butuh materi pembentukan karakter relegius yang berbasis evaluasi personal,” ujarnya.

''Jika kita sudah tidak bisa berharap lagi pada aturan-aturan agama yang dapat memperbaiki kehidupan dan akhlak manusia, mau pada hal apa lagi kita harus percaya?'' tanyanya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Agus Mulyana. Ketua Lembaga Dakwah Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (LDK UPI) Bandung ini melihat pelajaran agama sangat penting untuk memperbaiki moral dan karakter siswa.

''Terjadinya tawuran yang sampai menimbulkan kerugian fisik dan nyawa melayang itu memperlihatkan bahwa moral dan karakter siswa itu sudah jauh dari harapan. Nah, salah satu cara untuk memperbaikinya adalah perlunya pendidikan agama,'' kata dia.

Selama ini, lanjut Agus, pendidikan agama di sekolah hanya berdurasi dua jam setiap pekannya. Durasi belajar untuk pengetahuan agama itu sangat kurang.

Ia pun setuju dengan pendapat Suryadharma Ali jika di pesantren nyaris tak ada terdengar namanya tawuran pelajar. ''Ini pengalaman saya sendiri,'' kata Agus yang sebelumnya mondok di pesantren di daerah Kuningan, Jawa Barat ini.

Cara pandang siswa dan guru boleh jadi berbeda dalam masalah perlu tidaknya penambahan jam pelajaran agama di sekolah.

Khoirunnisa Istiqomah, mahasiswi semester sembilan program studi matematika di Universitas Negeri Jakarta, mengingatkan jika penambahan jam pelajaran agama itu hanya bersifat normatif dan tak akan bisa menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi tawuran pelajar.

Di samping menambah jam pelajaran agama, ia berpendapat, tiap sekolah seharusnya memberikan pula ruang bimbingan dan pembinaan akhlak secara khusus kepada siswa dan siswinya.

''Ini dilakukan secara rutin, bertahap, dan berkesinambungan,'' kata Khoirunnisa. “Penanaman nilai moral dan spiritual sangat dibutuhkan.  Tentunya, dengan cara-cara yang lebih interaktif dan menarik, bukan sekadar penjelasan-penjelasan konvensional di depan kelas saja.''

Cara pandang siswa dan guru boleh jadi berbeda dalam masalah perlu tidaknya penambahan jam pelajaran agama di sekolah. Siti Mugi Rahayu, pembaca Republika Online yang mengajar di Yayasan Al Muslim Bekasi, Jawa Barat, mengingatkan bahwa menambah jam pelajaran agama bisa saja dijadikan solusi, misalnya untuk memperkuat keimanan siswa.

Namun, sepertinya akar masalahnya bukan pada kurangnya jam pelajaran agama. ''Justru jika diberikan teori, mereka akan kembali jenuh dengan tambahan pelajaran yang relatif lebih membosankan,'' kata Siti.

Menurut Siti, kurikulum pelajaran sekolah di Indonesia memang berat dan lebih memfokuskan pada kemampuan kognitif semata. Beratnya tuntutan kurikulum tersebut membuat soft skill peserta didik kurang teperhatikan.

Akibatnya, kecerdasan ganda selain kemampuan kognitif yang ada pada diri mereka tidak tergali secara maksimal. Anak-anak yang tidak bisa menunjukkan kecerdasannya inilah yang kemudian akan mengalami frustrasi bersekolah.

''Mereka lalu mencari cara bagaimana agar eksistensinya diakui. Tawuran lalu menjadi salah satu bentuk pelarian dari fenomena ini. Belum lagi orang tua dan guru melupakan satu kata yang menjadi kunci permasalahan siswa: komunikasi

Belajar Agama dari Ilmu LainGuru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang Imam Suprayogo menilai, upaya untuk mengatasi dekadensi moral pelajar yang ada saat sekarang bukanlah dengan cara menambah jam pelajaran pendidikan agama.

Imam mengingatkan, semua pelajaran yang saat ini sudah berkembang pada prinsipnya sama saja dengan pembelajaran tauhid.

''Jadi, menurut saya, itu sudah lebih dari kita harus menambah pelajaran agama lagi di sekolah. Belajar fisika, biologi, kimia, semua itu bagian dari belajar Islam juga. Karena di dalam Alquran itu, kita diharuskan untuk bisa membaca alam. Nah, di sinilah orientasi belajar itu harusnya diarahkan,'' kata Imam yang juga menjadi rektor UIN Malang ini.

Karena nilai agama sebenarnya sudah terserap dalam ilmu-ilmu yang lain, yang diperlukan saat ini adalah meluruskan orientasi proses belajar.

Untuk dapat meluruskan orientasi belajar ini dibutuhkan adanya kerja keras dari para pengajar untuk bisa menyelami hakikat nilai Islam yang terkandung di dalam mata pelajaran umum tersebut.

Imam khawatir, jika penambahan pelajaran agama dilakukan tanpa ada pemberian yang kreatif, justru bisa memberikan rasa menjemukan kepada para siswa. ''Di sini nantinya justru tidak akan efektif,'' ujarnya.

Ia juga melihat saat ini bobot pendidikan agama di sekolah umum memang masih sangat kurang. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi alasan untuk menuding penyebab terjadinya tawuran antarpelajar yang marak terjadi.

''Proses itu terjadi dari rangkaian yang sangat kompleks,'' kata cendekiawan kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, ini.[republika.co.id]

Posting Lebih Baru Posting Lama
digitalhuda.com